Beranda Berita Berita MWC Tindaklanjuti PKPNU, MWC Ambal Jadi Pelopor Budidaya Padi Organik

Tindaklanjuti PKPNU, MWC Ambal Jadi Pelopor Budidaya Padi Organik

0
Tindaklanjuti PKPNU, MWC Ambal Jadi Pelopor Budidaya Padi Organik

WILAYAH Barat Kebumen seperti Karanganyar boleh lebih awal dalam hal tanam padi. Namun untuk penggerak padi organik yang paling getol dipelopori oleh petani wilayah Timur, terutama Ambal. Dan mereka merupakan warga Nahdliyyin yang telah mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU).

Ya. Mulanya, para kader tersebut mengikuti PKPNU di Desa Muktisari, Kecamatan Kebumen pada 2020 silam. Di mana pelatihan yang pesertanya diisi ruh faham Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) itu menjadi trigger (pemicu) bagi ranting di MWC Ambal untuk membudidayakan padi organik.

Diketahui, usai PKPNU di Muktisari, para peserta dari MWC Se-Kebumen diminta menampilkan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Dalam kesempatan tersebut disimak langsung oleh Sekretaris PWNU Jateng Hudallah Ridwan Naim (Gus Huda) dengan memberikan support besar.

Gayung bersambut. Paling mengemuka memang dari MWC Ambal yang menyampaikan potensi budidaya padi organik. Alasannya, selain banyak kader di wilayah setempat, masyarakatnya juga mayoritas petani dan memiliki sumber daya alam melimpah berupa kotoran sapi yang dijadikan sebagai salah satu bahan pupuk organik.

Seperti di Desa Benerwetan, Kecamatan Ambal, yang terdapat lebih dari 400 ekor. Sementara kotoran sapi yang bisa dikumpulkan hingga menggunung di desa setempat belum terserap.

Gerakan dari bawah (bottomup) yang merupakan followup (tindaklanjut) dari PKPNU di Muktisari itu pun berlanjut dengan melakukan pendataan lahan. Untuk ranting di MWC Ambal yang siap yakni Desa Banjarsari, Desa Lajer, Desa Kliwonan dan Desa Benerwetan. Luas lahan yang disediakan sekitar 2,5 hektare.

Kesiapan tersebut lantas ditangkap oleh Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) NU Jateng. Para kader NU di MWC Ambal itu kemudian mendapat pendampingan dari pakar. Antara lain Kiai Turjangun pakar organik dari Batang, Kiai Amin Mufti pakar analisis tanah dari Brebes, serta Kiai Mukhlisin pakar organisatoris Kadang Tani Sarwotulus dan Gus Huda.

Pelatihan tingkat Jateng yang dilaksanakan di Amongrogo, Kabupaten Batang pada 2021 itu diikuti tujuh Pengurus Cabang (PC) di PWNU Jateng sembari praktik langsung. Dari PCNU Kebumen mengikutkan delapan kader, empat di antaranya kader MWC Ambal.

Seiring mengikuti pelatihan dan praktik langsung tersebut, ilmu yang diperoleh kader NU di MWC Ambal kian matang. Mereka juga telah memulai menerapkan pertanian organik, hasil mengikuti PKPNU di Muktisari tahun sebelumnya. Dan seminggu sepulang latihan di Batang itu bisa panen raya padi organik.

Ini sekaligus mentasbihkan wilayah Timur Kebumen sebagai pelopor budidaya padi organik. Mengingat, budidaya yang dilakukan di wilayah lain terbukti belum membuahkan hasil berarti.

Ful Organik

Awalnya, kader NU di MWC Ambal itu menggunakan bibit Ciherang di lahan Benerwetan, lantaran waktu itu belum ada rekomendasi bibitnya dengan perlakuan ful organik. Hasilnya baru 50 persen. Terungkap pula belum menggunakan pupuk dasar, seperti sisa jerami atau kotoran hewan yang divermentasi.

Perlakuan ful organik yang dilakukan kader NU di MWC Ambal juga baru sebatas menggunakan pupuk cair. Hingga panen berikutnya dengan hasil sudah mencapai 90 persen. Misalnya lahan 50 ubin mendekati hasil 5 kuintal.

Pola pemupukannya pun diperbaiki dengan memperbanyak pupuk dasar. Kini, hasilnya bisa melebihi petani lain yang menggunakan pupuk kimia sintesis. Apalagi kader NU di MWC Ambal juga mengembangkan bibit padi organik.

Tak diragukan lagi, mereka telah menguasai budidaya padi organik. Bahkan membuat pupuk organik padat, cair dan pestisida nabati. Atas keberhasilan tersebut didukung LPP NU Kebumen yang dibagi menjadi dua wilayah. Masing-masing wilayah Barat diketuai Erry Listyawan dan wilayah Timur diketuai Muhammad Anshori.

Budidaya padi organik itu juga diwadahi oleh Kadang Tani Sarwotulus (KTSt) dengan menggunakan label beras organik bermerk Lohjinawi. Dan Muhammad Anshori menjadi Ketua KTSt Ranting Banjarsari.

Menurut Anshori, prospek budidaya padi organik cukup menjanjikan. Bahkan terbuka untuk pasar ekspor. Manfaatnya pun sangat banyak, antara lain untuk mengatasi stunting (pertumbuhan tidak normal) dan idiot. “Nasi organik juga tahan hingga tiga hari atau tidak cepat basi,” jelasnya.

Pengembangan saat ini, lanjut Anshori, baru empat varietas organik yakni padi hitam, merah, mentik wangi susu dan raja lele. Satu lagi varietas pandan wangi belum dibudidayakan.

Selain banyak manfaat, harga padi organik juga lebih tinggi. Jika dalam bentuk beras, yang perlakuan kimia hanya Rp 6.400 perkg, sedangkan beras organik mencapai Rp 15.000 perkg.

“Sebenarnya dari budidaya organik ini mau diekspor tapi kuota dan standarisasinya belum terpenuhi, sehingga butuh pengembangan lagi,” imbuhnya.

Diharapkan peran serta PCNU Kebumen dan pihak terkait untuk membantu pengembangan organik, terutama bantuan mesin penggilingan padi. (Admin5)

PADI ORGANIK : Panen raya padi organik oleh kader NU di MWC Ambal menjelang Ramadan 2022.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here