Khutbah Idul Fitri: Menjaga Spirit Ramadhan

MENJAGA SPIRIT RAMADHAN

Oleh : H. Fauzin Jamil, M.Pd.I (Wakil Katib Syuriah)

الخطبة الاولى .

اَللهُ أكبر ×9 لا الهَ الا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد، الله أكبر، هَذَا الْيَوْمُ يَوْمُ الْعِيْدِ، جَعَلَ اللهُ الْعَوْدَ وَالصُّعُوْدَ إِلَى مَرْضَاتِ اللهِ الْمَحْبُوْبِ. اللهُ أكبر، اَلَّذِىْ قَدْ أَوْجَبَ فِيْهِ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ زَكَاةَ الْفِطْرِ تَزْكِيَّةً لِلنَّفْسِ وَتَنْمِيَةً لِعَمَلِهَا الْمَرْغُوْبِ. اللهُ أكبر. الَّذِىْ جَعَلَ يَوْمَ عِيْدِ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ وَسُرُوْرًا لَهُمْ بِجِهَادِ أَنْفُسِهِمْ وَقْتَ الصِّيَامِ الْمَغْلُوْبِ. أَحَلَّ اللهُ الطَّعَامَ وَحَرَّمَ الصِّيَامَ الْمَسْلُوْبَ.

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. بِاتِّبَاعِ النَّبِيِّ الْمُرْسَلِ تَبْشِيْرًا وَتَنْذِيْرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إلَهَ إِلَّا اللهُ الَّذِىْ جَعَلَ الْجَنَّةَ ضِيَافَةَ الْكُبْرَى. وَلَهُ الْآمِرُ بِالتَّوْبَةِ الصَّادِقَةِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْآمِرُ لِأُمَّتِهِ عَنِ التَّحَافُظِ قَبِيْحًا وَزُوْرًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا لِبَعْضِهِمْ ظَهِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ : اُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَقَدْ خَابَ مَنْ طَغَى. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا، فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا، لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم : 30) اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ

Kaum Muslimin Muslimat Rahimakumullah…

Puji syukur kehadirat Ilahi Robbi, atas berkat rahmat dan inayahnya kita dapat berkumpul di pagi ini, dalam suasana sholat idul fitri 1443 H. Sholawat beserta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda nabi Muhammad SAW.

Selaku khatib saya berwasiyat untuk diri saya sendiri khususnya, dan kepada semua jamaah sholat idul fitri di tempat ini. Marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah SWT, yaitu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam


اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin muslimat yang saya mulyakan,

Hari ini merupakan hari raya idul fitri. Fitri itu adakalanya berarti suci, adakalanya pula berarti berbuka. Merupakan tanda bahwa ibadah puasa romadhon kita sudah selesai. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apa hikmah dari puasa yang sudah kita jalankan?
Berhasil atau tidaknya puasa kita sebulan ini dapat kita lihat dan rasakan mulai hari ini dan seterusnya, yakni mulai bulan syawal ini dan seterusnya. Apakah setelah kita tidak wajib berpuasa, kita tetap bisa berakhlak seperti orang puasa. Saat kehidupan kembali normal dan kita menghadapi berbagai persoalan serta problematika kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menyikapinya?. Seberapa jauh puasa itu berhasil, terletak dari sejauh mana perubahan karakter dan sikap kita menghadapi berbagai cobaan tersebut daripada bulan sebelumnya.

Bekal pendidikan dan pelatihan selama sebulan inilah yang akan kita pakai untuk menghadapi 11 bulan kehidupan mendatang. Jika cukup banyak menyerap berkah ramadhan dengan menjadi pelaku sabar, pelaku ramah, pelaku dermawan, pelaku amal sholeh lain, maka perilaku baik pada ramadhan tersebut akan mendarah daging menjadi pola perilaku kita mendatang.

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin muslimat yang saya mulyakan,

Bulan Romadhon adalah bulan tarbiyah (pendidikan). Dimana sekurang-kurangnya ada 5 nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa ramadhan yang harus kita renungkan dan hikmahnya ini kita amalkan ;

Pertama; Puasa mendidik kita untuk merasakan perasaan orang lain.

Puasa mendidik kita untuk merasakan perasaan orang lain, kita tidak dididik secara apa itu lapar menurut teori, apa itu lapar menurut bahasa, apa itu lapar menurut istilah, Bagaimana itu lapar?. Tapi kita merasakan langsung, apa itu lapar, begini rasanya lapar.

Kalo saudara kita lapar, kita juga lapar, namun masih beda lapar kita dengan mereka. Kita masih ada batas waktunya. kita lapar hanya sampai maghrib, tapi mereka yg jauh disana atau kadang yang dekat dengan kita, mereka pagi lapar, siang lapar, sore lapar, malam lapar. Mereka bingung untuk mengatasi lapar karena tidak adanya biaya untuk mengatasi lapar tersebut.

Maka dari itu, Allah mewajibkan kita untuk menjadi manusia yang peduli satu sama lainnya. Baik kepada orang tua, saudara, tetangga, atau saudara sesama muslim lainnya. Jangan sampai kita menanamkan sifat ketidak pedulian atau acuh tak acuh terhadap siapapun. Sebagaimana telah dijelaskan Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya: “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya.”

Merasakan perasaan atau penderitaan orang lain inilah yg kita pelajari dan kita pupuk selama di bulan ramadhan ini.

Kedua; Puasa mendidik kejujuran.

Orang yang sedang berpuasa atas dasar imanan wahtishaban, ia tidak akan makan dan minum serta melakukan hal-hal yang membatalkan puasa betapapun tidak ada orang yang melihat dan tidak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Allah. Itulah pelajaran kejujuran dari ibadah puasa kita.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab 70-71

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosadosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. [Al-Ahzab : 70 – 71]

Kalau waktu romadhon kemarin kita mampu jujur, maka di bulan ini dan berikutnya maka kita haruslah juga mampu jujur. Jujur dalam perkataan dan perbuatan.

Ketiga: Puasa mendorong dan mendidik manusia agar selalu belajar dalam rangka memperoleh dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada bulan pusa ramadhan ini terdapat peristiwa turunnya al-Quran (Nuzulul Qur’an), Alqur’an surat Al-Alaq: 1-5 sebagai ayat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad Saw menjadi bukti
agar manusia mau belajar.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

Dari sekian banyak kalimat, Allah pilih “Iqra yang berarti bacalah” sebagai kalimat pertama yang Dia turunkan. Ini mengindikasikan bahwa Allah mencintai hamba yang sering membaca, yang sering belajar. Hikmahnya, setelah puasa ini kita haruslah sering membaca dan belajar, membaca Al qur’an, buku, belajar mengaji dll. Jika kita mampu setelah puasa ini meningkatkan belajar kita, ngaji kita, maka insyaallah ini
pertanda bahwa puasa kita diterima.


Keempat, Puasa mendidik kesetaraan.

Dalam ibadah puasa, Islam memandang manusia memiliki kesamaan derajat. Mereka yang memiliki banyak harta, status sosial yang yang tinggi, yang mempunyai sedikit rupiah, atau bahkan orang yang tak memiliki sepeserpun ketika sedang berpuasa, tetap merasakan hal yang sama yaitu : lapar dan haus.
Maka di bulan syawal dan berikutnya, sudah seharusnya kita mulai merubah pandangan kita terhadap sesama manusia, kita harus sadar bahwa semua manusia dihadapan Allah adalah sama, hanya taqwa lah yang membedakan kedudukan kita.
Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”


Kelima; Puasa mendidik sabar,

Betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman
meskipun itu halal melainkan kita harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba.

Bagi kita yang mampu bersabar menunggu waktu berbuka, sudah selayaknya kita juga mampu bersabar di bulan setelah romadhon ini. Semoga Allah menganugrahi kita kemampuan dan kemauan dalam memahami dan mengamalkan 5 nilai puasa tersebut, sehingga kita digolongkan sebagai insan yang bertaqwa.

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْاالله َعَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ  بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

الخطبة الثانية

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبرُ، وللهِ الحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ، أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ وَجَعَلَهُ مِنْ دَلاَئِلِ الإِيمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ، وَالنِّعْمَةُ الْمُسْدَاةُ، وَهَادِي الإِنْسَانِيَّةِ، إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ. فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً.

اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Khutbah Idul Fitri: Njaga Spirit Ramadhan

NJAGA DHATENG SPIRIT RAMADHAN

Oleh: H. Fauzin Jamil, M.Pd.I (Wakil Katib Syuriah)

الخطبة الاولى .

اَللهُ أكبر ×9 لا الهَ الا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد، الله أكبر، هَذَا الْيَوْمُ يَوْمُ الْعِيْدِ، جَعَلَ اللهُ الْعَوْدَ وَالصُّعُوْدَ إِلَى مَرْضَاتِ اللهِ الْمَحْبُوْبِ. اللهُ أكبر، اَلَّذِىْ قَدْ أَوْجَبَ فِيْهِ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ زَكَاةَ الْفِطْرِ تَزْكِيَّةً لِلنَّفْسِ وَتَنْمِيَةً لِعَمَلِهَا الْمَرْغُوْبِ. اللهُ أكبر. الَّذِىْ جَعَلَ يَوْمَ عِيْدِ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ وَسُرُوْرًا لَهُمْ بِجِهَادِ أَنْفُسِهِمْ وَقْتَ الصِّيَامِ الْمَغْلُوْبِ. أَحَلَّ اللهُ الطَّعَامَ وَحَرَّمَ الصِّيَامَ الْمَسْلُوْبَ.

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. بِاتِّبَاعِ النَّبِيِّ الْمُرْسَلِ تَبْشِيْرًا وَتَنْذِيْرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إلَهَ إِلَّا اللهُ الَّذِىْ جَعَلَ الْجَنَّةَ ضِيَافَةَ الْكُبْرَى. وَلَهُ الْآمِرُ بِالتَّوْبَةِ الصَّادِقَةِ بَاطِنًا وَظَاهِرًا. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْآمِرُ لِأُمَّتِهِ عَنِ التَّحَافُظِ قَبِيْحًا وَزُوْرًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا لِبَعْضِهِمْ ظَهِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ : اُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَقَدْ خَابَ مَنْ طَغَى. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا، فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا، لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم : 30) اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ

Kaum Muslimin Muslimat Rahimakumullah…

Alhamdulillah, Puji syukur dhateng ngarsanipun ilahi robbi, kanthi rahmat lan inayahipun kita saged kempal ing enjing puniki, kanthi kawontenan sholat riyadi 1443 H. Sholawat lan  salam mugi-mugi tansah kaparingaken dhateng baginda Nabi Muhammad saw.

Minangka khatib kula wasiyat kangge dhiri kula piyambak khususipun, lan dhateng sedaya jamaah sholat riyadi ing papan puniki. Mangga kita sami tingkataken taqwa dhateng Allah swt, inggih punika nglampahaken sedaya dawuh-dawuhipun Allah lan nebihi sedaya larangan-laranganipun.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artosipun: He para wong Mu’min kabeh, sira padha wedia ing Allah kalawan sajatining wedi, Ian sira aja padha mati, kajaba mati Islam.


اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin muslimat yang saya mulyakan,

Dinten punika inggih dinten raya idul Fitri. Fitri puniku wonten kalanipun gadhah artos suci, wonten kalanipun ugi gadhah artos bikak. Inggih punika tanda menawi ibadah siyam romadhon kita sampun purna. Ingkang dados pitakenan sapunika punapa hikmah saking siyam ingkang sampun kita lampahaken? Kasil lulus punapa mbotenipun siyam kita sawulan puniki saged kita tingali lan raosaken wiwit dinten puniki lan salajengipun, inggih punika wiwit sasi sawal puniki lan salajengipun. Punapa sasampunipun kita mboten wajib siyam , kita tetep saged gadhah akhlak kados tiyang siyam. Nalika gesang wangsul normal malih lan kita ngadepi pinten-pinten persoalan saha problematika gesang sadinten-dinten, kados pundi kita menyikapinipun? Sepinten hasilipun siyam kita tergantung kaliyan sepinten ebah karakter lan sikap kita ngadhepi pinten-pinten coban kasebat dibanding sasi-sasi saderengipun Ramadhan.

Bekal pendidikan lan pelatihan salami sawulan puniki lah ingkang badhe kita angge kangge ngajengi 11 sasi saklajengipun. Menawi kita kathah rumesepi berkah pasa punika kaliyan dados tiyang sabar, tiyang ingkang santun, loman, saha amal sholeh saanese, mila lampahan sae ing pasa kasebat badhe dados perilakau lan lampahan kita samangke.

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin muslimat yang saya mulyakan,

Sasi Romadhon inggih punika sasi tarbiyah utawi pendidikan. Ing pundi paling mboten wonten 5 (gangsal) nilai pendidikan ingkang kekandhut lebet siyam pasa ingkang kedah kita renungkan lan hikmahipun kita amalkan;

Pertami; siyam mucali kita kangge ngraosaken pangraosan tiyang sanes.

Siyam mucali kita kangge ngraosaken pangraosanipun tiyang sanes. Kita mboten dipunwucal punapa luwe midherek teori lan basa utawa istilah?. Nanging kita ngraosaken langsung, kados pundi raosipun luwe. Menawi sadherek kita luwe, kita ugi luwe. Nanging taksih benten luwe kita kaliyan piyambakipun. Kita taksih wonten wates wekdalipun. Kita luwe naming dumugi maghrib kemawon, nanging piyambakipun sedaya kadang-kadang enjing luwe, siyang luwe, sonten luwe, dalu luwe. Piyambakipun sami bingung kangge ngatasi luwe, amargi mboten wontenipun biaya kangge ngicali luwe kasebat.

Pramila, Allah majibaken kita kangge dados manungsa ingkang perduli setunggal kalihsanesipun. Sae dhateng tiyang sepuh, sadherek, tangga, utawi sadherek sesami muslim sanesipun. Ampun ngantos kita nanemaken sifat mboten peduli utawi acuh tak acuh kaliyan sintena tiyang. Kados sampun dipunjlentrehaken saking Abu Hurairah radliyallahu anhu. Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam ngendika,

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Artosipun:” Gusti Allah tansah nulung marang kawulane selagi kawulane mau ya pada nulung marang sedulure”

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artosipun: “ Dudu wong mukmin kang sampurna yen deweke turu kanthi tuwuh/wareg nanging tanggane luwe nganti tumeko lambung wetenge.”

Ngraosaken pangraosipun utawa penderitaanipun tiyang sanes punikilah ingkang kita bibinauni salami sakwulan Ramadhan puniki

Khikmah kaping kalih; puasa punika mucali kejujuran.

Orang yang sedang berpuasa atas dasar imanan wahtishaban, ia tidak akan makan dan minum serta melakukan hal-hal yang membatalkan puasa betapapun tidak ada orang yang melihat dan tidak ada orang yang tahu kecuali dirinya dan Allah. Itulah pelajaran kejujuran dari ibadah puasa kita.

Tiyang ingkang saweg siyam kanthi dhasar imanan wahtishaban, piyambakipun mboten badhe nedha lan ombe saha nglampahaken bab-bab ingkang mbatalaken siyam sinaoso mboten wonten tiyang ingkang sumerep lan mboten wonten tiyang ingkang ngertos kejawi piyambakipun lan Allah. Puniku lah wucalan jujur saking ibadah siyam kita.

Allah SWT ngendika lebet surat Al Ahzab 70-71

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artosipun: “ He para wong Mu’min! sira kabeh padha wedia marang Allah, Ian padha ngucapa kalawan ucapan kang bener! Temen Allah bakal ambecikake tindakira Ian Ngapura dosanira. Lan sapa kang ndherek marang Allah lan UtusaNe, temen dheweke oleh kabegjan kang agung

Nalika wekdal Ramadhan kala wingi kita waged jujur, mila ing sasi puniki lan sakterasipun kita kedah saged jujur. Jujur ing lebeting gineman lan lampahan.

Khikmah kaping tiga: siyam saged ndorong lan ndidik manungsa supados tansah sinahu kangge nggayuh ngelmu pengetahuan lan teknologi.

Ing sasi pasa puniki wonten peristiwa mandhapipun al-qur’an (nuzulul qur’an). Alqur’an serat al-alaq: 1-5 dados ayat ingkang pertami dipuntampi Nabi Muhammad Saw dados bukti supados manungsa kedah tansah sinau .

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

Sangking semonten kathahe kalimah, Allah milih lafal “Iqra’” ingkang gadhah makna “wacanen” minangka dados kalimat pertami ingkang dipun wahyuaken. Punika nedhahaken bilih Allah remen dhateng kawulane ingkang asring maos lan asring sinau. Hikmahipun, saksampunipun siyam puniki kita kedah asring maos lan asring sinau, maos al Qur’an, buku, kitab, sinau ngaji lan sanesipub. Menawi saksampunipun siyam puniki kita saged ningkataken sinau kita, mila insyaAllah puniki tandhanipun siyam kita dipuntampi. 


Khikmah kaping Sekawan: Siyam punika ndidik dhateng kesetaraan.

Dalam ibadah puasa, Islam memandang manusia memiliki kesamaan derajat. Mereka yang memiliki banyak harta, status sosial yang yang tinggi, yang mempunyai sedikit rupiah, atau bahkan orang yang tak memiliki sepeserpun ketika sedang berpuasa, tetap merasakan hal yang sama yaitu : lapar dan haus.
Maka di bulan syawal dan berikutnya, sudah seharusnya kita mulai merubah pandangan kita terhadap sesama manusia, kita harus sadar bahwa semua manusia dihadapan Allah adalah sama, hanya taqwa lah yang membedakan kedudukan kita.
Allah SWT berfirman :

Lebet ibadah siyam, Islam mandeng manungsa nggadhahi derajat sami. Tiyang-tiyang ingkang nggadhahi kathah banda, status sosial ingkang inggil, ingkang gadhah sakedhik rupiyah, utawi malah tiyang ingkang mboten nggadhahi sepeserpun kala saweg siyam, tetep ngraosaken bab ingkang sami inggih punika: luwe lan ngelak. Mila ing sasi sawal lan salajengipun, sampun kedahipun kita wiwit ngowahi pandengan kita kaliyan sesami manungsa. Kita kedah sadar menawi sadayaning manungsa ing ngarsanipun Allah punika sami, naming taqwa lah ingkang mbentenaken kedudukan kita sakmangke. Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artosipun: He para manungsa! sayekti Ingsun wus anitahakc sira kabeh saka wong lanang lan wadon, Ingsun banjur andadekake sira kabeh dadi pirang-pirang bangsa lan turunan, supaya sira padha wewanuhan weruh wincruhan, sanyata wong kang inganggep mulya mungguhing Allah iku wong kang luwih taqwa ing PanjenengaNe, sayekti. Allah iku Maha Uninga tur kang Waspada”


Khikmah kaping gangsal Siyam ndidik kesabaran.

Betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman
meskipun itu halal melainkan kita harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba.

Bagi kita yang mampu bersabar menunggu waktu berbuka, sudah selayaknya kita juga mampu bersabar di bulan setelah romadhon ini. Semoga Allah menganugrahi kita kemampuan dan kemauan dalam memahami dan mengamalkan 5 nilai puasa tersebut, sehingga kita digolongkan sebagai insan yang bertaqwa.

Kadospunapa pun kita rumaos ngelak, garing tenggorokkan lan luwe wethengipun, kala wekdal magrib dereng dugi, kita mboten dipunkengingaken nedha lan ngunjuk, sanadyan puniku halal ananging kita kedah sabar ngentosi wekdal buka dugi. Kangge kita ingkang kuwawi sabar ngentosi wekdal bukak, sampun pantesipun kita ugi kuwawi sabar ing sasi-sasi sasampunipun romadhon puniki.

Mugi-mugi Allah maringi kita kesagahan lan kekajengan lebeting mangertosi lan ngamalaken 5 (gangsal) pelajaran siyam kasebat , Mila kita dipun-golongaken dados insan ingkang bertaqwa. Amin ya Rabbal ‘alamin

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْاالله َعَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

الخطبة الثانية

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللهُ أكبرُ، وللهِ الحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْماَلِكِ الْمَنَّانِ، أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ وَجَعَلَهُ مِنْ دَلاَئِلِ الإِيمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ، وَالنِّعْمَةُ الْمُسْدَاةُ، وَهَادِي الإِنْسَانِيَّةِ، إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ. فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً.

اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Khutbah Idul Fitri: Nyikapi Masalah Gesang

NYIKAPI MASALAH GESANG

Oleh : H. Fauzin Jamil, M.Pd.I (Wakil Katib Syuriah)

الخطبة الاولى

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ . لاَ إلٰهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ اَعَادَ الْاَعْيَادَ وَ كَرَّرْ. وَ اَطَالَ الْاَعْمَارَ اِلَى اِدْرَاكِ هَذَا الْيَوْمِ الْمُوَفَّرْ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ اَنْ خَلَقَ وَصَوَّرْ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً يُثْقِلُ بِهَا الْمِيْزَانَ فِى الْمَحْشَرْ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوْثُ اِلَى الْجِنِّ وَالْبَشَرْ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَادِقِ الْخَبَرْ، وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ اُولِى الْفَضْلِ الْاَفْخَرْ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّابَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يُزَكِّى قَلْبَ الصَّائِمِيْنَ بِتَمَامِ الصِّيَامِ وَالْفِطْرِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْم: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكّىَ، وَذَكَر اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْاَخِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى


Kaum Muslimin lan Muslimat rahimakumullah

Sumonggo kita sami ngaturaken puji syukur dhateng Allah Ta’ala, amargi kanthi pitulunganipun kita sampun saged nindakaken syiam Ramadhan sewulan nutug. lan sakmenika kita waged ngrayakaken riyaya idul fitri, dinten ingkang pundi kita sami paring pangapunten dhateng sedaya kalepatan-kalepatan ing antawisipun kita sedaya.

Mboten kesupen ugi, sumangga kita tansah ningkataken kualitas iman lan taqwa kita dhateng Allah Ta’ala, nopo malih kita sampun dipun didik dening Allah Ta’ala lumantar ngibadah syiam/pasa ing sasi Ramadhan tahun punika.

Kaum Muslimin – Muslimat ingkang berbahagia

Sampun dados budaya lan tradisi wonten ing masyarakat kita, anggenipun ngrayakaken riyadi tansah ngawontenaken acara halal bihalal lan silaturrahmi, sami-sami ndugini antawis tangga, para kadang sedulur lan kanca tepangan. Setunggal kaliyan sanes sami-sami bersalaman dados ungkapan panedha pangapunten lan maklumi kelepatan piyambak-piyambak, sae ingkang nyangkut sesambetan pribadi, lampahan, utawi sesambetan sosial kemasyarakatan.

Dinten raya riyadi warsa puniki kita tesih ing kawontenan ingkang kirang mbingahaken kangge kita sami. Kondisi musibah pandemi ingkang dereng pulih sempurna, dipuntambah kaliyan minggahipun pinten-pinten barang keperluan, wiwit pinten-pinten wekdal saderengipun sasi siyam. Problematika gesang manungsa, estu kados roda ingkang muter, kadhang wonten ing posisi inggil lan kadhang wonten ing posisi ngandhap. Menawi saweg ing posisi ngandhap, kita kedah saged ngadepi kawontenan, menawi mboten pinter-pinter anggenipun ngadepi kawontenan, tentu salah setunggaling tiyang badhe tansah rumaos pakewed utawi gelisah ingkang mboten terus menerus, terjerat dening dilema ingkang maneka warni.

Punapa ingkang dados masalah pagesangan, nyata maneka warni bentukipun wonten ing pergaulan ingkang wiyar saha kondisi masyarakat ingkang majemuk punika. Sangking masalah ingkang entheng ngantos masalah-masalah ingkang awrat sampun cekap dadosaken raos sesek nafas bahkang kadang ndadosake stress pikiran.

Punapa ingkang saweg kita alami sakmenika, sejatosipun minangka ujian lan cobaan sangking Allah Ta’ala ingkang dumugi dhateng kita sami, kados dene dawuhipun Allah wonteng ing surat Al Baqrah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَالِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّابِرِينَ

Artosipun: Lan sanyata Ingsun bakal nyoba ing sira kabeh kalawan sawatata kekuwatiran, kaluwen, kekurangan bandha, Ian kekurangan kadang mitra, sarta kekurangan wohwohan. Sira ambebungaha marang wong-wong kang padha kuwat sabar.

Kedah kita emut menawi salami manungsa gesang wonten ing dunya punika, mboten badhe terhindar saking coban lan ujian, nggih cobaan alit utawi ageng. Amargi sejatosipun gesang ing donya puniki estu panggenanipun coban. Mlajar saking setunggal masalah sejatosipun tumuju dhateng masalah ingkang sanes. Pramila kita kedah berjaga lan siap dhiri ngadepi sedaya kemungkinan ingkang terpahit. Kita kedah ngadepi kaliyan tabah soho keyakinan, bilih wonteng ing wingking kesisahan mesthi wonten kemudahan lan kebahagiaan.

Saklebet ngadepi gesang ingkang nyusahaken kados sapunika, salah setunggaling tiyang kedah nggadhahi kepitadosan dhateng dhiri piyambak, mila saged nglampahi gesang kanthi tanpa raos ajrih, kuwatos, lan ewed utawi gelisah ingkang mboten tentu. Tiyang ingkang beriman kedahipun kuwawi ngetingalaken kepribadianipun dados pribadi ingkang tegar ngadhepi sedaya cobaan lan tantangan. Allah sampun ngendika mekaten:

وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُ

Lan sira sabara marang hukum papesthene Pangeranira, sanyata sira Muhammad, iku ana ing asta panguwasanIngsun, mula sira padha nucekna kalawan muji asma dalem Allah (maca tasbih) nalika sira tangi saka turu (At-thur : 48).

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin – Muslimat rahimakumullah

Wicanten masalah ujian lan coban. ing limrahipun tiyang nginten menawi ingkang naminipun ujian inggih punika sedaya punapa-punapa ingkang mboten ngremenaken, kados kesisahan gesang ingkang dipun alami kathah-kathahipun masyarakat kita sapunika. Ananging saleresipun ingkang naminipun ujian puniku sanes lah bab-bab ingkang mboten ngremenaken mawon, ananging ugi ingkang ngremenaken ugi, kados gadhah kathah banda, gadhah griya ingkang megah lan mewah, gadhah kendaraan ingkang awis, punika sedaya nggih saleresipun ujian saking Allah ta’ala. Punapa tiyang ingkang nggadhahi banda puniku badhe mensyukuri nikmat kasebat utawi malah malah kufur dhateng nikmat. Wonten setunggaling dawuhipun Allah ta’ala lebet serat al anbiya: 35 kados mekaten:

وَنَبْلُوْكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artosipun: Ian Ingsun Allah nguji marang sira kabeh kalawan ala Ian becik, Ian amung marang Panjenengan lngsun sira kabeh bakal disowanake

Langkung teges malih, bilih kesugihan puniko kalebet ujian kangge manungsa. Kados dipunjelasaken wonten ing surat al Anfal ayat 28:

وَٱعْلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهٗ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

Artosipun: Lan sira padha mangertia satemene kabeh bandha-bandhanira Ian anak-anakira iku kabeh dadi cecoba, Ian sanyata Allah iku kagungan ganjaran kang agung  (Al-Anfal: 28 )

Mekaten lah penjelasan Allah ta’ala ingkang kanthi teges nyatakaken menawi manungsa puniku kadang-kadang dipun-uji kaliyan kesaenan utawi kebahagiaan lan kadang-kadang dipun-uji kaliyan keawonan utawi penderitaan. Manungsa ingkang dipun-uji kaliyan penderitaan menawi piyambakipun mboten lulus, bahayanipun mboten kados puniku ageng. Ananging manungsa dipun-uji kaliyan kemewahan gesang, menawi piyambakipun mboten lulus, mangka bahayanipun langkung ageng ketimbang ingkang mboten lulus lebet ujian penderitaan.

Kathah tiyang ingkang gesang lebeting kemewahan, langkung-langkung bandhanipun, sedaya kekajenganipun kasembadan, nanging piyambakipun malah tebih lan kesupen dhateng Allah ingkang nyukani nikmat kebahagiaan kasebat,  mila piyambakipun lajeng terjerumus nglampahaken pinten-pinten lelampahan nista ingkang dipun-larang dening Allah Ta’ala.

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَانَ لَيَطْغٰى (6) أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنٰى (7)

Artosipun: Mangertia, satemene manungsa iku banget lacute (ngliwati wates), Amarga manungsa rumangsa andeleng awake sarwa kacukupan (Al Alaq: 6-7 )

Wonten ing lebet ayat sanes, wonten ing serat Al-Fusilat ayat 51 dipunsebataken:

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى ٱلْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ فَذُوْ دُعَآءٍ عَرِيْضٍ

Lan manawa Ingsun amaringi ni’mat marang manungsa, dheweke banjur minger sak-Iambunge, emoh syukur! Lan mbareng wong mau kena coba, banjur ngaturake do’a panyuwun sing warna-warna!.

Megayutan kaliyan banda punika, wonten setunggal haditsipun Rasulullah Saw ngendika:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Artosipun: Saktemene saben umat iku ulih ujian, lan ujiane umatku yaiku badha kesugihan ( HR Turmudzi dari Ka’ab bin Iyad )

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin – Muslimat ingkang berbahagia

Kelebet perkawis ingkang ngremenaken nanging saestunipun punika ujian lan coban, inggih punika jabatan utawi kedudukan. nggih jabatan puniku saking instansi pamarintahan utawi saking swasta. Estu sampun dados fitrah, menawi manungsa remen dhateng kedudukan ingkang inggil utawi dados panguwaos ingkang nggadhahi kekuwaosan ingkang wiyar. Nanging mboten sadayaning tiyang ingkang sampun dugi kedudukan ingkang inggil puniku lulus ngadepi ujian nalika nglenggahi jabatan kasebat. Wonten ing sejarah asring kita mangertosi wontenipun para panguwaos ingkang nyalahgunakaken jabatanipun, utawi dzalim lan sewenang-wenang kala piyambakipun saweg gadhah kuwaos.

Kita tamtu emut kados pundi wiyaripun kekuwaosan Fir’aun ing jamanipun. Kedudukanipun mboten wonten ingkang nandingi. Kaliyan kedudukan ingkang inggil puniku piyambakipun nglampahaken punapa mawon demi kangge ngelanggengaken kekuasaanipun, dumugi piyambakipun wantun mejahi ewonan bayi jaler ingkang tembe lahir, kala piyambakipun angsal informasi saking para juru ramalipun menawi bayi-bayi puniku lah ingkang mangke badhe nggulingaken jabatanipun sapunika. Bab puniki sampun ditegesaken dening Allah ta’ala lebeting al Qur’an.

Senadyan Fir’aun puniku sampun pejah, nanging fir’aunismenipun utawi faham-faham kados fir’aun, tamtu mawon taksih kathah ing pundi pundi, diwarisi dening para panguwaos ingkang gesang sasampunipun. Khususipun para panguwaos ingkang mboten lulus lebet nempah ujian kala nglenggahi jabatanipun.

Mugi-mugi kanthi ketabahan siyam ing saben sasi pasa , kita badhe tansah kuwat ngadepi pinten-pinten macem ujian ingkang warni-warni bentukipun kados ingkang sampun dipunaturaken ing inggil kala wau. amin

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُفَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

الخطبة الثانية


الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله لاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Idul Fitri: Menyikapi Berbagai Masalah Kehidupan

MENYIKAPI BERBAGAI MASALAH KEHIDUPAN

Oleh : H. Fauzin Jamil, M.Pd.I (Wakil Katib Syuriah)

الخطبة الاولى

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ . لاَ إلٰهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ ِللهِ اَعَادَ الْاَعْيَادَ وَ كَرَّرْ. وَ اَطَالَ الْاَعْمَارَ اِلَى اِدْرَاكِ هَذَا الْيَوْمِ الْمُوَفَّرْ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ اَنْ خَلَقَ وَصَوَّرْ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً يُثْقِلُ بِهَا الْمِيْزَانَ فِى الْمَحْشَرْ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوْثُ اِلَى الْجِنِّ وَالْبَشَرْ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَادِقِ الْخَبَرْ، وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ اُولِى الْفَضْلِ الْاَفْخَرْ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّابَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يُزَكِّى قَلْبَ الصَّائِمِيْنَ بِتَمَامِ الصِّيَامِ وَالْفِطْرِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْم: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكّىَ، وَذَكَر اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْاَخِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى


Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Marilah kita memanjatkan puji syukur kepada Allah ta’ala, karena atas pertolonganNya kita telah dapat melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan kini kita merayakan hari raya Idul Fitri, hari dimana kita saling memaafkan kesalahan-kesalahan di antara kita semua.

Tidak lupa pula, marilah kita juga senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, terlebih setelah sebulan penuh kita dididik oleh Allah Ta’ala melalui ibadah puasa Ramadhan.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia

Telah menjadi budaya dan tradisi bangsa kita dalam merayakan Idul Fitri selalu mengadakan acara halal bihalal dan silaturrahmi dengan kunjung-mengunjungi antara tetangga, sanak saudara dan handai tolan. Satu sama lain saling bersalaman sebagai ungkapan permohonan maaf dan memaklumi kesalahan masing-masing, baik yang menyangkut hubungan pribadi, tingkah laku, maupun hubungan sosial kemasyarakatan.

Hari raya Idul Fitri tahun ini kita berada pada kondisi yang kurang
menggembirakan bagi kita semua. Kondisi musibah pandemi yang belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan naiknya bebagai komoditi,
sejak beberapa waktu sebelum bulan puasa. Problematika hidup manusia, memang bagaikan roda berputar, kadang berada di posisi atas dan kadang ada di posisi bawah. Jika sedang di posisi bawah, kita harus bisa mengatasi keadaan, jika tidak pandai-pandai mengatasinya,  seseorang akan selalu merasa gelisah berkepanjangan, terjerat oleh dilema yang beraneka ragam.

Apa yang menjadi problema hidup, ternyata beragam bentuknya dalam pergaulan yang luas dan masyarakat majemuk ini. Dari problema yang ringan menjurus kepada yang berat, cukup membuat seseorang merasa sesak nafas bahkan terkadang bisa menjadi stres.

Apa yang sedang kita alami sekarang ini pada hakikatnya
adalah merupakan ujian dan cobaan dari Allah ta’ala yang di
timpakan kepada kita semua, sebagaimana yang difirmankan-Nya
dalam surat Al Baqarah : 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَالِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Perlulah kita ingat bahwa selama manusia hidup, tidak akan
terhindar dari cobaan dan ujian, baik kecil maupun besar. Karena sejatinya kehidupan di dunia ini memang tempatnya cobaan. Lari dari satu masalah sejatinya menuju kepada masalah yang lain. Karena itu
kita harus berjaga dan bersiap diri menghadapi segala kemungkinan
yang terpahit. Kita harus menghadapinya dengan tabah dengan
keyakinan bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan

Dalam menghadapi hidup yang menyusahkan seperti
sekarang ini, seseorang perlu memiliki kepercayaan kepada diri
sendiri, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan tanpa rasa
takut, khawatir, dan resah yang tak berketentuan. Seorang yang
beriman hendaknya mampu mengapresiasikan kepribadiannya
sebagai pribadi yang tegar menghadapi segala cobaan dan
tantangan. Allah berfirman sebagai berikut:

وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُ

 “Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) menerima hukum
Tuhanmu. Sesungguhnya engkau dalam penjagaan Kami dan
bertasbihlah (mensucikan Tuhan mu), dengan memuji Tuhanmu
ketika engnkau berdiri”.
(At-thur : 48).

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Berbicara masalah ujian dan cobaan. Pada umumnya orang
mengira bahwa yang namanya ujian itu adalah segala sesuatu yang
tidak menyenangkan, seperti kesulitan hidup yang di alami
kebanyakan masyarakat kita sekarang ini. Akan tetapi sebenarnya
yang namanya ujian itu bukanlah hal-hal yang tidak menyenangkan
saja, akan tetapi yang menyenangkan pun, seperti mempunyai
banyak harta, mempunyai rumah yang megah dan mewah, mempunyai kendaraan yang mahal, itupun sebenarnya merupakan ujian dari Allah ta’ala. Apakah orang yang memiliki harta itu mau mensyukuri nikmat tersebut atau justru malah mengkufurinya. Berkenaan dengan hal ini ada sebuah firman Allah ta’ala dalam surat Al Anbiya: 35 sebagai berikut:

وَنَبْلُوْكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai suatu ujian dan hanya kepada Kamilah kamu akan di
kembalikan (untuk dihisab)”

Lebih tegas lagi bahwa kekayaan merupakan ujian bagi manusia, telah dijelaskan oleh ayat dibawah ini:

وَٱعْلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهٗ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak anakmu itu adalah sebagai
ujian dan sesungguhnya pada Allah-lah pahala yang besar”. (Al-Anfal:
28 )

Demikianlah penjelasan Allah ta’ala yang secara tegas
menyatakan bahwa manusia itu kadang-kadang diuji dengan
kebaikan atau kebahagiaan dan kadang-kadang diuji dengan keburukan atau penderitaan. Manusia yang diuji dengan penderitaan jika ia tidak lulus, maka bahayanya tidaklah begitu besar, akan tetapi jika manusia diuji dengan kemewahan hidup, bila ia tidak lulus, maka
bahayanya jauh lebih besar dari pada yang tidak lulus dalam ujian
penderitaan.

Betapa banyak orang yang hidup dalam kemewahan,
bertaburan harta, terpenuhi semua keinginannya, tetapi justru jauh
dan lupa kepada Allah yang memberi nikmat kebahagiaan tersebut
sehingga terjerumus melakukan berbagai macam perbuatan nista
yang dikutuk oleh Allah ta’ala. Allah berfirman sebagai berikut:

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَانَ لَيَطْغٰى (6) أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنٰى (7)

“Sekali kali janganlah disangkal, sesungguhnya manusia benar-benar
durhaka karena dia melihat dirinya telah kaya raya:.
(Al Alaq: 6-7 )

Dalam ayat lain pada surat Al-Fusilat ayat 51 disebutkan:

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى ٱلْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ فَذُوْ دُعَآءٍ عَرِيْضٍ

 “Dan apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan
menjauhkan dirinya (tidak berterima kasih), tetapi apabila ia ditimpa
malapetaka, maka ia banyak berdoa”.

Berkenaan dengan harta ini, ada sebuah Hadist yang
menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah
bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhmya setiap umat itu mendapat ujian, dan ujian bagi
umatku adalah harta kekayaan”. ( HR Turmudzi dari Ka’ab bin Iyad )

اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia

Termasuk sesuatu yang menyenangkan namun sesungguhnya
merupakan ujian dan cobaan, adalah jabatan atau kedudukan, baik
jabatan itu dari instansi pemerintahan ataupun swasta. Memang
sudah menjadi fitrah, bahwa manusia merindukan kedudukan yang
tinggi atau menjadi penguasa yang memiliki kekuasaan yang luas.
Tetapi tidak semua orang yang sudah mencapai kedudukan yang
tinggi itu lulus dalam ujian dalam menduduki jabatan tersebut.
Dalam sejarah sering kita dapatkan adanya para penguasa yang
menyalahgunakan jabatannya, atau berbuat dzalim dan sewenang-wenang ketika ia sedang berkuasa.

Kita tentu ingat bagaimana luasnya kekuasaan Fir’aun pada
saat itu, kedudukanya tidak ada yang menandingi apalagi
melebihinya. Dengan kedudukan yang tinggi itu ia melakukan apa
saja demi untuk melanggengkan kekuasaanya, sampai ia berani
membunuh ribuan bayi laki-laki yang baru lahir ketika ia mendapat
informasi dari para juru ramalnya bahwa bayi-bayi itulah yang kelak
akan menggulingkan jabatanya sekarang ini. Hal ini telah ditegaskan
oleh Allah ta’ala dalam Al Quran.

Sekalipun Fir’aun itu sendiri sudah mati, namun Fir’aunismenya (faham-faham ke Fir’aunanya) tentu saja masih berkeliaran
dimana mana, diwarisi oleh para penguasa yang hidup sesudahnya.
Khususnya para penguasa yang tidak lulus dalam menempuh ujian
ketika menduduki jabatannya.

Mudah-mudahan dengan ketabahan berpuasa di setiap bulan
Ramadhan, kita akan senantiasa mampu menghadapi bermacam macam ujian yang beragam bentuknya seperti yang telah dituturkan di atas. Amin

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْن، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْم، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

الخطبة الثانية


اَللهُ أَكْبَرُ (×3) ، اَللهُ أَكْبَرُ (×3)، اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً، لاَ إلٰهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْد
الحَمْدُ للهِ رَبِ الْعَالَمِيْن، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا الله. قَالَ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىّ،‏ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْن

اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Idul Fitri: Menuju Pintu Kebahagiaan Pasca Ramadhan

PINTU KEBAHAGIAAN PASCA IBADAH RAMADLAN

Oleh : H. Achmad  Cholid Fikri, M.Pd. (LDNU Kebumen)

الخطبة الاولى .

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ . اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ . اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ . وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ . وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ لِلَّهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ . نَبِيَّا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah …

Puji syukur kita haturkan kehadirat Allah Yang Maha pemurah atas segala kemurahan rahmat dan karunia-Nya, bimbingan dan pertolongan-Nya, taubat dan maghfirah-Nya selama dalam bulan Ramadhan tahun 2022 M /443 H yang mulia, sehingga kita dapat menyelesaikan ibadah puasa kita sebulan penuh dengan sebaik-baiknya. Segala macam pantangan dan larangan di siang Ramadhan telah berhasil kita hindarkan.

Mental dan budi pekerti telah berusaha kita tingkatkan ke arah yang lebih mulia. Kemurahan hati dan kedermawanan kita teruji dengan mengeluarkan shodaqah, zakat fitrah, dan zakat yang lain kepada kaum yang memang membutuhkan dan berhak menerimanya. Semua itu telah berhasil kita lalui, semua itu berkat kemurahan dan perkenan dari Allah semata. Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita panjatkan puji syukur dengan setulus-tulusnya kepada Allah SWT. dengan membaca takbir, tahmid dan tasbih.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama tahun 2022 M /443 H, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya, sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi :

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: ‘Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka’. Sesorang kemudian berseru: ‘Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan’. Kemudian Allah pun berkata: ‘Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia …

Seiring dengan berlalunya Bulan suci Ramadhan., bBanyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah. Sebab 12 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, semula sesuatu yang halal menjadi haram.

Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram. Sementara dari aspek sosial, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar. Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama.

Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda:

“Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri”

Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri Syahwat.

Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: ”bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu.

Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar.

Ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia. Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat mengkhawatirkan.

Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan.

Orang yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur’an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya, menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah :

 وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ

Artinya :”…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia…

Pesan kedua Ramadhan adalah pesan sosial Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah justru pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab , kalian semua adalah ummat Allah/ كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ ,

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Pesan ketiga Ramadhan adalah pesan jihad, Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah, akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu :

 بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِهِ

Artinya : “Mencurahkan segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaanNya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya.”

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar.

Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan. Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah. Jihad yang paling  utamaadalah mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain bahkan negara kita. Sebagaimana Firman Alloh swt :

يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ

Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS Ash-Shaff:10-12)

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Fithri rahimakumullah…

Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اللهُ اَكْبَرْ (٣×)  اللهُ اَكْبَرْ (٤×)  اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ .اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ا اتَّقُوا الله. قال الله تعالى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Idul Fitri: Tumuju Kebahagiaan Pasca Ramadhan

TUMUJU KEBAHAGIAAN PASCA IBADAH RAMADHAN

Oleh : H. Achmad  Cholid Fikri, M.Pd. (LDNU Kebumen)

الخطبة الاولى .

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ . اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ . اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ . وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ . وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ لِلَّهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ . نَبِيَّا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah …

Puji syukur kita aturaken dhateng pangarsanipun Gusti Allah ingkang Maha Welas Asih. Kanthi sedaya kemirahan rahmat lan karunia-ipun, bimbingan lan pertolongan-ipun, taubat lan maghfirah-ipun salami lebeting sasi pasa warsa 2022 M /1443 H ingkang mulia puniki, mila kita saged ngrampungaken ibadah siyam kita sawulan nutug kanthi sasae-saenipun. Sedaya mawarni pantangan lan larangan ing siyang pasa sampun kasil kita tilaraken. Mental lan budi pekerti sampun usaha kita tingkataken dhateng arah ingkang langkung mulia. Kemirahan manah lan kedermawanan kita teruji kaliyan ngedalaken shodaqah, zakat fitrah, lan zakat ingkang sanes dhateng golongan tiyang ingkang estu mbetahaken lan berhak nampaninipun.

Sedaya puniku sampun kasil kita lampahi, Sedaya puniku berkat kemirahan lan perkenan saking Allah kemawon. Pramila, sapisan malih, manga kita konjukaken puji syukur kanthi setulus-tulusipun dhateng Allah swt. Kanthi maos takbir, tahmid lan tasbih

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama tahun 2022 M /1443 H, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya, sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi :

Sasampunipun stunggal sasi kita nindakaken ibadah siyam lan kanthi karunia-ipun ing dinten puniki kita saged berhari raya sareng warsa 2022 M /1443 H, mila sampun sepantasipun ing dinten ingkang bingah puniki kita bergembira, ngrayakaken setunggaling momentum kemenangan lan kebahagiaan berkat limpahan rahmat lan maghfiroh-ipun, kados ingkang kasebat lebet setunggaling hadis Qudsi :

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

Artosipun: “Nalika tiyang-tiyang ingkang sami nindakaken siyam ramadhan pada budal saperlu kangge ngrayakaken dinten riyadin, mila Allah banjur ngendika: “Wahai para malaikat Ingsun, saben wong kang nindakaken amal kebajikan pada nyuwun ganjarane, saktemene Ingsun wus ngapurani marang deweke kabeh”. Lajeng wonten setunggal pengundang-undang ngendika: “Wahai umat Muhammad, baliho marang panggonan sira kabeh. Saktemene kabeh keluputan sira kabeh wus diganti kebagusan”. Banjur Allah ngendika malih: “Wahai kawulaku, sira kabeh  wus nindakake puasa kerana Ingsun lan buka kerana Ingsun. Mula jumenengo kanthi dadi wong kang wus uling pangapura Ingsun”.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama`ah Idul Fithri ingkang berbahagia …

Sareng kaliyan budalipun sasi suci pasa, kathah wucalan hukum lan hikmah, faidah lan fadhilah ingkang saged kita petik kangge dados sangu lebet ngelampahi gesang ingkang badhe dugi. Menawi saged dipunibarataken, pasa punika setunggaling madrasah. Amargi 12 jam ping 30 dinten, wiwit medale fajar ngantos surupipun srengenge. Saderengipun punapa-punapa ingkang halal dados haram.

Nedha lan ngombe ingkang saderengipun halal kangge manungsa, nanging ing sasi pasa nalika siyam dados haram. Wondene saking aspek sosial, sadayaning tiyang nate rumaos tuwuk nanging mboten sadayaning nate ngraosaken luwe. Pramila, wonten tiga pesen lan kesan pasa ingkang sampun semestinipun kita cepengi kanthi kenceng.

Pesen pertami Ramadhan inggih punika pesen moral utawi Tahdzibun Nafsi. Kita kedah tansah waspadha dhateng mengsah ingkang paling ageng tumerapipun menungsa, inggih punika hawa nafsu minangka mengsah ingkang mboten nate berdamai. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ngendika:

“ Jihad kang paling gedhe yaiku jihad merangi hawa nafsu”

Wonten ing saklebet kitab Madzahib fît Tarbiyah dipun jlentrehaken bilih wonteng ing dhiri saben tiyang wonten nafsu wiwit piyambakipun dipun lahiraken. Inggih punika nafsu amarah, nafsu kawruh lan nafsu syahwat. Sangking ketiganipun nafsu punika, ingkang paling sisah kangge dipun-kendalikaken lan dipun-bersihaken inggih punika naluri/nafsu syahwat.

Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî ngendika: “Menawi ing dhiri manungsa wonten sekawan sifat, tiga sifat gadhah potensi kangge nyilakaaken manungsa, setunggal sifat gadhah potensi ngateraken manungsa tumuju lawang kebahagiaan

Pertami, sifat kewan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanipun ngalalaken sedaya cara kangge nggayuh tujuwan tanpa raos lingsem.

Kaping kalih, sifat buas (سَبُعِيَّةْ); tanda-tandanipun kathahipun kezhaliman lan sakedhik keadilan. ingkang kiyat tansah menang dene ingkang ringkih tansah kawon sanadyan leres.

Kaping tiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanipun mertahanaken hawa nafsu ingkang ndhawahaken martabat manungsa.

Menawi tiga-tiganipun sifat puniki langkung dominan utawi langkung mewarnai setunggaling masyarakat utawi bangsa, niscaya badhe kedados setunggaling ebah tatanan sosial ingkang ngawatiraken sanget.

Dene setunggal-setunggalipun sifat ingkang membahagiakan inggih punika sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); dipuntandani kaliyan keimanan, ketakwaan lan sabar ingkang sampun kita bina sareng-sareng selami sasi pasa puniki.

Orang yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur’an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya, menahan diri dari hawa nafsu, memberi maaf dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah :

Tiyang ingkang saged kanthi sae ngoptimalaken sifat rububiyah ing lebet jiwanipun, niscaya mlampah gesangipun dipun-sinari dening cahaya al-Qur’an. Prilakunipun dipun-paesi budhi pekerti ingkang luhur (akhlaqul karimah). Salajengipun, piyambakipun badhe dados insan muttaqin, insan ingkang dados pangajeng-ajeng saben tiyang. Insan ingkang lebeting dinten riyadin puniki ningalaken tigang bab, nahan dhiri saking hawa nafsu, nyukani pangapunten lan lampah sae ing sesami manungsa, kados firman Allah

 وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ

Artosipun :”… Ian kang tahan ngampet napsune. kang ngapura marang kaluputaning liyan. Allah iku remen marang wong kang padha tumindak ing kabecikan.” (QS Ali Imran: 134)

Jama`ah Idul Fithri ingkang berbahagia…

Pesen kaping kalih,  inggih punika pesen social. Pesen sosial pasa puniki tergambar kanthi endah. Endah malah ing detik-detik akhir pasa lan gerbang tumuju sasi syawwal. Ing pundi, kala umat muslim ngedalaken zakat fithrah dhateng Ashnafuts tsamaniyah (wolu kelompok masyarakat ingkang berhak nampi zakat), utaminipun kaum fakir miskin, ketingal kados pundi tali silaturrahmi saha semangat kangge berbagi mekaten nyata ketingal. Semangat zakat fitrah puniki ngedalaken kesadaran kangge tulung tinulung (ta`awun) antawis tiyang-tiyang sugih lan tiyang-tiyang miskin, antawis tiyang-tiyang ingkang gesangipun berkecukupan lan tiyang-tiyang ingkang gesang sadinten-dintenipun sarwi kekirangan, sejalan manahipun amargi , panjenengan sedaya punika ummatipun Allah ( كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ )

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Pesan ketiga Ramadhan adalah pesan jihad, Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah, akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu :

Pesen kaping tiga, inggih punika pesen jihad. Jihad ingkang dipunmaksud ing ngriki, sanes jihad lebeting pangartosipun ingkang rupek; inggih punika perang mbela agami Allah. Ananging jihad lebeting pangartosipun ingkang wiyar, inggih punika :

 بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِهِ

Artosipun: “ Mencurahkan sedaya punapa ingkang dipun-gadhahi lan sedaya kekiyatanipun kangge nggayuh ridha Pengeran, merkoleh dhateng agungipun ganjaran lan selamet sangking siksanipun”

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar.

Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan. Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah. Jihad yang paling  utama adalah mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain bahkan negara kita. Sebagaimana Firman Alloh swt :

Pangertosan jihad puniki langkung komprehensif, amargi ingkang dipuntuju inggih punika ngorbanaken sedaya ingkang kita gadhahi, sae tenaga, banda, utawi jiwa kita kangge nggayuh keridhaan saking Allah. Utaminipun jihad nglawan nafsu dhiri kita piyambak ingkang dipunsebat dados jihadul akbar, jihad ingkang paling ageng. Kanthi mekaten, jihad badhe terus gesang ing lebet jiwa ummat Islam nggih lebet kondisi peperangan utawi lebet kondisi damai. jihad tetep dipunlampahaken.

Lebeting konteks masyarakat Indonesia wekdal puniki, jihad ingkang kita betahaken sanes lah jihad ngangkat senjata. Ananging jihad ngendalikaken nafsu dhiri lan ndorong terciptanipun setunggaling sistem sosial ingkang bermartabat, berkeadilan lan sejahtera, saha lelandasan nilai-nilai agami lan ketaatan dhateng Allah. Jihad ingkang paling utami inggih ngendalikaken hawa nafsu saking sadayaning bab ingkang saged ngrugikaken dhiri kita piyambak, napa malih ngrugikaken tiyang sanes saha nagari kita. Kados firman Alloh swt :

يآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلىَ تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ. تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ ذَالِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ اْلفَوْزُ اْلعَظِيْمُ

Artosipun: “He para wong mukmin kabeh, sira apa pada gelem lngsun paringi pituduh dagangan kang bisa nylametake sira kabeh saka siksa kang nglarani?. Yaiku sira pada imano marang Allah lan utusaNe, Ian padha temen-tumemena anggonira ngIuhurake (nglabuhi) Agamaning Allah kanthi toh bandha Ian badanira (jiwa). Kang mangkono mau luwih becik tumrap sira kabeh, manawa sira padha mangerteni. Allah bakal ngapura dosanira kabeh, Ian nglebokake sira kabeh ana ing Suwarga kang sangisore ana kaline mili, sarta panggonan kang edi peni ana ing Suwarga panggonan kani’matan, hiya kang mangkono iku kabegjan agung (QS Ash-Shaff:10-12)

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jama’ah Sholat Idul Fithri rahimakumullah…

Mekaten lah tiga pesen ingkang dipunsanjangaken dening pasa . Pramila , mangga[sumangga] kita sareng-sareng mikul tanggel jawab kangge maujudaken tiga pesen kasebat dhateng salebet pagesangan kita.

Mangga kita sareng-sareng ngendalikaken hawa nafsu kita piyambak, kangge mboten kepancing ing bab-bab ingkang terlarang lan ngrugikaken tiyang sanes; menjalin sesambetan silaturrahim saha kerja sami, sesami muslim tanpa mbenten-mbentenaken status sosial, saha nyandang semangat jihad kangge mbangun setunggaling sistem sosial ingkang bermartabat, berkeadilan lan sejahtera.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اللهُ اَكْبَرْ (٣×)  اللهُ اَكْبَرْ (٤×)  اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ .اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيِنَ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ا اتَّقُوا الله. قال الله تعالى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Jumat: Menuju Kemenangan

Khutbah I


اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (آل عمران: 30)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Tidak terasa, Kita sudah dipenghujung terakhir bulan Ramadlan Hari-hari terakhir Ramadlan ini akan menjadi saksi mengenai apa yang kita lakukan, apakah kita mampu mengisinya dengan berbagai kebaikan, ataukah kita termasuk mereka yang lalai, lengah dan teledor. Inilah saatnya kita berburu pahala. Inilah saatnya kita berburu ridla Allah. Inilah saatnya kita menuju kemenangan. Inilah saatnya kita menuju hari yang fitri.

Betapa banyak orang yang ingin menyambut kedatangannya, tapi jatah hidupnya telah habis. Betapa banyak orang yang berharap untuk bertemu dengannya dan memperoleh barokahnya, tapi ajal memutus harapannya. Kita bersyukur, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan hari-hari terakhir Ramadlan kali ini. Semoga kita diberi kekuatan untuk memanfaatkannya sebaik mungkin dan mengisinya dengan berbagai ketaatan.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Jika telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadlan, apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?. Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ)

Maknanya: “Adalah Rasulullah apabila sepuluh malam terakhir Ramadlan telah tiba, beliau menghidupkan malam dengan shalat dan berbagai ibadah, membangunkan keluarganya untuk shalat malam dan ibadah-ibadah yang lain, bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi apa yang biasanya dilakukan dan tidak menggauli istri-istrinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sepuluh hari terakhir Ramadlan adalah di antara waktu yang paling baik untuk berdoa. Di dalamnya terkumpul banyak sekali waktu-waktu yang mulia dan mustajabah, yaitu sepuluh malam terakhir Ramadlan, sepertiga malam terakhir, sesaat setelah adzan dikumandangkan, waktu setelah selesai shalat lima waktu, dalam keadaan sujud, pada saat berkumpulnya umat Islam dalam majelis-majelis kebaikan, majelis-majelis dzikir dan ilmu. Semua itu terkumpul dalam sepuluh hari terakhir Ramadlan. Waktu-waktu tersebut kita manfaatkan untuk terus menerus berdoa, doa kebahagiaan dunia akhirat, memohon ampunan dosa, keberkahan rezeki, panjang umur dalam ketaatan, terhindar dari segala macam musibah dan wabah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُوْلُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي (أَخْرَجَهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Maknanya: “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan dengan mengatakan: aku telah berdoa tapi belum juga dikabulkan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Lebih-lebih lagi apabila doa itu dipanjatkan sembari melakukan i’tikaf di masjid. Pada sepuluh malam terakhir Ramadlan, Rasulullah selalu merutinkan i’tikaf di masjid sampai beliau meninggal dunia.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada sepuluh malam terakhir ini, kita juga dianjurkan berburu lailatul qadr, malam yang perbuatan baik di dalamnya lebih utama daripada perbuatan baik selama seribu bulan atau 83 tahun 4 bulan. Allah memang merahasiakan kapan lailatul qadr itu terjadi. Akan tetapi Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk memburunya pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan. Dan kalau kita ingin memperoleh barokah lailatul qadr secara pasti, maka kita hidupkan seluruh malam pada bulan Ramadlan dengan berbagai ibadah dan ketaatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْه)

Maknanya: “Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadr (dengan shalat dan berbagai ibadah) dengan dilandasi keimanan dan niat semata mengharap ridla Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadirin yang dirahmati Allah,
Demikian khutbah yang singkat ini. Marilah menuju hari raya, hari kemenangan, hari kembali kepada fitrah, dengan memanfaatkan sepuluh hari terakhir ini untuk melakukan berbagai ibadah dan ketaatan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah Jumat : Hakikat Puasa dan Tingkatannya

Khutbah I

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (البقرة: 183)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Takwa adalah sebaik-baik bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, khatib mengawali khutbah yang singkat ini dengan wasiat takwa. Marilah kita semua selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan segenap larangan.

Hadirin rahimakumullah,
Puasa pada hakikatnya adalah meninggalkan syahwat nafsu yang hukum asalnya mubah di luar puasa. Syahwat nafsu tersebut diharamkan untuk sementara waktu, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari dan setelah itu dihalalkan kembali. Oleh karenanya, puasa seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam segala keadaan, bukan hanya saat berpuasa. Ibadah puasa adalah salah satu manifestasi ketundukan seorang hamba kepada Allah. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwat-syahwat nafsunya di siang hari untuk mendekatkan diri kepada Allah dan karena taat kepada-Nya.

Kemudian berbuka dan kembali memenuhi syahwat nafsunya saat malam tiba juga untuk mendekatkan diri kepada Allah dan karena taat kepada-Nya. Ia tidak meninggalkan syahwat nafsunya kecuali dengan perintah Tuhannya dan tidak kembali memenuhi syahwat nafsunya kecuali dengan perintah Tuhannya. Jadi dalam dua keadaan tersebut, seorang hamba menaati perintah Tuhannya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Oleh karenanya, sungguh disayangkan ketika orang berpuasa dari syahwat nafsunya yang diharamkan sementara waktu saat berpuasa, namun ia tidak menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah dalam segala keadaan, baik saat berpuasa maupun di luar puasa.

Demikian pula, orang yang berpuasa dan menjauhi syahwat nafsunya yang diharamkan sementara waktu saat berpuasa, namun ia berbuka dengan makanan atau minuman yang haram atau melakukan perkara haram lainnya. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ والعَمَلَ بهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طعَامَه وشَرَابَه(رواه البخاريّ)
Maknanya: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dosa dan perbuatan dosa, maka Allah tidak akan menerima puasanya” (HR al Bukhari)

Hadirin jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,
Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah itu lebih ringan daripada sabar menghadapi siksa-Nya. Karenanya, hendaklah kita jaga perut kita dari memakan makanan atau minuman yang haram waktu berbuka. Hendaklah kita jaga mata kita dari melihat yang haram, kita jauhi perkataan kotor yang diharamkan seperti berbohong, ghibah (membicarakan aib seorang muslim yang memang benar ada padanya tanpa ada sebab yang diperbolehkan oleh syara’ di belakangnya).

Hendaklah kita jaga pendengaran kita dari mendengar omongan yang haram didengar. Juga kita cegah anggota-anggota badan kita yang lain seperti tangan dan kaki dari perbuatan-perbuatan maksiat, dosa dan perbuatan yang makruh.

Demikian pula, hendaklah kita menahan diri dari perbuatan keji, pertengkaran, percekcokan dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ (رواه الشيخان)

Maknanya: “Sesungguhnya puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah bersikap keji dan jangan bertindak bodoh, jika ada orang yang mengganggunya atau mencacinya maka hendaklah ia berkata: aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa” (HR al Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berbicara tentang dua orang perempuan yang saat berbuka puasa membicarakan keburukan orang lain. Baginda Nabi bersabda:

إِنَّ هَاتَيْنِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللهُ لَـهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمَا، جَلَسَتْ إحْدَاهُمَا إِلَى الأُخْرَى فَجَعَلَتَا يَأْكُلَانِ لُـحُوْمَ النَّاسِ (رواه أحمد)

Maknanya: “Sesungguhnya kedua perempuan ini menahan diri dari apa yang dihalalkan Allah bagi keduanya dan berbuka dengan apa yang diharamkan bagi keduanya. Salah satu dari keduanya duduk menemani temannya dan keduanya memakan daging-daging manusia (berbuat ghibah)” (HR Ahmad)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ (رواه الحاكم والبيهقي وابن خزيمة وابن حبّان

Maknanya: “Puasa yang sempurna tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, melainkan menahan diri dari perkataan-perkataan dan perbuatan yang diharamkan atau dimakruhkan” (HR al Hakim, al Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebagian ulama seperti Imam al Ghazali membagi tingkatan orang-orang yang berpuasa menjadi tiga. Beliau berkata dalam Ihya’ ‘Ulumiddin:


اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الخُصُوْصِ وَصَوْمُ خُصُوْصِ الخُصُوْصِ. وأمّا صَوْمُ الْعُمُومِ فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ. وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ وَهُوَ صَوْمُ الصَّالحِيْنَ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ. وأمَّا صَوْمُ خُصُوْصِ الخُصُوْصِ فَصَوْمُ القَلْبِ عَنِ الهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللهِ عزَّ وجَلَّ بِالكُلِّيَّةِ وَيَحْصُلُ الفِطْرُ في هذَا الصَّوْمِ بِالفِكْرِ فيمَا سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاليَوْمِ الْآخِرِ وَبِاْلفِكْرِ في الدُّنْيَا، وَهٰذِهِ رُتْبَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالمُقَرَّبِيْنَ فإنَّهُ إِقْبَالٌ بِكُنْهِ الهِمَّةِ علَى اللهِ عزَّ وَجَلَّ وَانْصِرَافٌ عَنْ غَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ. ا.هـ بتصرّف


Maknanya: “Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga tingkatan: (1) Puasa orang-orang umum, (2) Puasa orang-orang khusus dan (3) Puasa orang-orang yang terkhusus.

(1) Puasa orang-orang umum adalah mencegah perut dan kemaluan dari memenuhi syahwatnya.
(2) Puasa orang-orang khusus -dan ini adalah puasanya orang-orang shalih- adalah mencegah mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan semua anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.
(3) Sedangkan puasa orang-orang yang terkhusus adalah puasanya hati dari tekad-tekad yang buruk dan pikiran-pikiran duniawi dan mencegahnya dari segala hal selain Allah secara total.

Berbuka dalam puasa seperti ini adalah dengan berfikir tentang selain Allah dan hari akhir dan dengan berfikir tentang dunia. Ini adalah tingkatan para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, karena ini adalah menghadapkan semangat (tekad) kepada Allah dan berpaling dari selain Allah.”

Hadirin rahimakumullah,
Berdasarkan kualitas puasa dan tingkatan orang-orang yang berpuasa inilah, sebagian ulama salaf berkata:


أَهْوَنُ الصِّيَامِ تَرْكُ الشَّرَابِ وَالطَّعَامِ


Artinya: “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minuman dan makanan.” Sahabat Jabir bin Abdillah berkata:


إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَالمَحَارِمِ، وَدَعْ أَذَى الجَارِ وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً

Maknanya: “Jika engkau berpuasa maka hendaklah telinga, mata dan lidahmu berpuasa dari berbohong dan perkara-perkara yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetangga. Hendaklah engkau dihiasi dengan kewibawaan/ kekhidmatan dan ketenangan di hari puasamu dan jangan engkau jadikan hari puasa dan tidak berpuasa sama.”

Hadirin yang dirahmati Allah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini.
Semoga Allah menganugerahkan taufik-Nya kepada kita sehingga puasa kita termasuk dalam bagian puasa orang-orang yang khusus dan bahkan termasuk puasa orang-orang yang paling khusus. Amin.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Khutbah Jumat : Puasa dan Pelajaran Anti Kekerasan

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الصَّوْمَ حِصْنًا لِأَوْلِيَائِهِ وَ جُنَّةً، وَفَتَحَ لَهُمْ بِهِ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُلَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَائِدِ الْخَلْقِ وَمُمَهِّدِ السُّنَّةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِيْ الْأَبْصَارِ الثَّاقِبَةِ وَالْعُقُوْلِ الْمُرَجِّحَةِ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْـتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh berkah ini kita semua masih dikaruniai sehat jasmani dan rohani sehingga sanggup menunaikan kewajiban, baik shalat Jumat maupun puasa Ramadhan. Khatib mengajak utamanya kepada diri sendiri dan umumnya kepada jamaah sekalian untuk senantiasa mengevaluasi dan memperbaiki kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga kepatuhan kita dalam melaksanakan perintah dan menghindari larangan-Nya kian hari semakin menunjukkan peningkatan.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Puasa yang kita jalani saat ini mengandung pesan pokok yang mungkin kadang kita lupakan, yakni menahan. Hal ini sesuai makna ash-shaum atau ash-shiyam yang secara bahasa berarti al-imsak: menahan. Seperti kita tahu, secara fisik orang yang berpuasa diwajibkan menahan makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Lebih jauh lagi, makna menahan di sini berarti pula menahan seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat dan menahan hati dari berpaling kepada selain Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah pernah mengisyaratkan dalam sabdanya bahwa banyak orang yang berpuasa hanya berhenti pada level menahan secara fisik belaka, sehingga mereka tidak memiliki nilai apa pun kecuali sebatas lapar dan dahaga. Hadirin yang semoga dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan mulia. Namun, sering kita temui perbuatan-perbuatan tercela masih berseliweran di sekitar kita. Mengapa? Karena kemuliaan Ramadhan adalah satu hal, sedangkan perilaku manusia adalah hal lain. Sebab itu tidak heran, di bulan yang disucikan ini, berita tentang kekerasan masih kita dengar di media.

Penganiayaan, perampasan hak, dan tindakan zalim lain yang merugikan orang tidak otomatis berhenti dengan kehadiran bulan Ramadhan. Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan menentang keras berbagai bentuk kezaliman, termasuk kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Manusia adalah makhluk mulia di mata Islam.
Karena itu, Islam menganjurkan perlakuan terhormat kepada manusia, tidak hanya saat hidup tetapi bahkan ketika sudah menjadi jenazah sekalipun. Segala macam perbuatan yang merendahkan kemuliaan ini otomatis berarti melawan ajaran Islam itu sendiri. Kekerasan fisik biasanya muncul dengan jalan memukul, mencekik, melempar, dan tindakan menyakiti lainnya.

Pada tingkat yang lebih parah, kekerasan jenis ini bisa disertai dengan penggunaan alat atau senjata. Mayoritas dari kita barangkali tidak atau jarang melakukannya, tetapi hati-hatilah dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sekilas tampak “remeh”, seperti gemar mencubit anak, suka melempar barang ketika marah, dan hobi memberi ancaman.

Kegemaran macam itu lambat laun bisa membesar jadi aksi kekerasan fisik yang lebih parah karena benih keburukan yang dipelihara dan dipupuk akan tumbuh dan memberi dampak mudarat yang semakin luas. Seolah tanpa henti, kasus-kasus kekerasan fisik mampir di telinga dan mata kita hampir setiap hari di berbagai media baik televisi, koran, portal daring, media sosial, atau lainnya.

Pemukulan kepada orang lain, penganiayaan orang tua kepada anak, perampokan, pembegalan, pemerkosaan, pelecehan, dan sejenisnya adalah berita kekerasan yang kerap melintas di hadapan kita. Padahal, Al-Qur’an mengingatkan,


قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

Artinya, “Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar…” (QS al-A’raf: 33).

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Selain kekerasan fisik, bentuk lainnya adalah kekerasan verbal. Jenis kedua ini memang tidak lebih populer tetapi justru yang paling sering terjadi dalam praktik sehari-hari. Kekerasan verbal umumnya dilakukan dengan cara menghina, menuduh tanpa bukti, memfitnah, memberi julukan negatif, menyinggung atas dasar SARA, dan lain-lain. Kekerasan melalui perkataan, tulisan, atau gambar seperti ini kadang dianggap lumrah karena tidak diketahui secara langsung kerugian fisiknya. Yang diserang ada perasaan atau psikologinya. Sebagaimana kekerasan fisik, kekerasan verbal masuk kategori kezaliman terhadap orang lain.

Konsekuensi dari mezalimi pihak lain adalah dosa si pelaku tidak diampuni selama korban tidak dimintai maaf atau tidak memberi maaf. Setiap dosa sosial adalah kasus haq adami, yang akan dianggap selesai ketika kedua belah pihak terjadi saling ridha dan menghalalkan. Bila di dunia ini kasus tersebut belum tuntas maka akan menjadi “utang” yang bakal ditagih dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Na‘udzubillah min dzalik.

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Mari kita jadikan bulan suci Ramadhan ini sebagai madrasah untuk menempa diri agar sanggup menahan berbagai godaan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kesia-siaan. Menahan makan dan minum adalah perkara yang ringan, terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya melaksanakan ibadah puasa dan menghormati orang berpuasa.

Yang sangat berat adalah menahan ego sendiri, mengontrol emosi, mengelola jiwa, dan mencegah diri dari melampiaskan perbuatan tidak baik, termasuk kekerasan, baik verbal maupun nonverbal.  
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


 أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Maknanya: “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya” (HR at-Tirmidzi).  

Memang tidak mudah mengelola hati dan seluruh anggota tubuh ini, mulai dari mulut, mata, telinga, kemaluan, otak, tangan, hingga kaki. Namun justru di situlah letak ujian puasa. Manusia digembleng untuk tidak hanya melawan perihnya perut dan keringnya tenggorokan tapi juga melawan diri sendiri yang dikuasai nafsu angkara.

Sudahkah hati dan seluruh anggota tubuh kita sabar dan kuat menapaki jalan puasa yang hakiki? Sudah bersihkah akun media sosial kita dari perbuatan menyakiti atau merugikan orang lain? Sejauh mana kita kita sabar menahan diri untuk berkomentar atas apa yang tidak kita kuasai?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi bahan evaluasi diri khatib pribadi dan jamaah sekalian tentang kualitas puasa kita hingga detik ini. Masih ada kesempatan untuk melakukan pembenahan, meningkatkan mutu ibadah, dan memperkuat persaudaraan antarsesama. Semoga kita semua dikaruniai kekuatan untuk menyelesaikan ujian Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلىَ رِضْوَانِهِ.  اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلَآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

  اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.  اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Jumat: Mengoptimalkan Ibadah Di Bulan Ramadhan

الحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُه، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَه، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أّنَّ سَيِدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اللهم صَلِّ عَلَى سَيِدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا مَعَاشِرَ المُسْلِميْنَ، اتَّقُو اللهَ “اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ”

Marilah kita meningkatkan nilai-nilai ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya taqwa Wa bil Khusus, Terutamanya ketika kita berada di bulan yang mulia ini yaitu bulan Ramadan.

Dalam Kitab Fawaid Mukhtaroh Karya Al Habib Ali bin Hasan Baharun dijelaskan.

كَانَ السَّلَفُ يَسْتَقْبِلُوْنَ رَمَضَانَ بِأَنْوَاعِ الطَّاعَاتِ وَالعِبَادَاتِ، بِخِلَافِ النَّاسِ الآن يَسْتَقْبِلُوْنَهُ بِأَنْوَاعِ المَطْعُوْمَاتِ وَالمَشْرُوْبَاتِ

Para salaf sholeh terdahulu menyambut bulan Ramadan dengan ragam ketaatan dan ibadah berbanding terbalik dengan keadaan saat ini, mereka menyambutnya dengan ragam makanan dan minuman.

Itulah realita keadaan kita saat iniyang mana kita kita lebih disibukkan dengan memikirkan makanan apa dan minuman apa yang akan kita hidangkan disaat berbuka, makanan dan minuman apa yang akan kita santap dan nikmati saat berbuka ?, bukan sebuah pertanyaan yang lebih penting dari sekedar makanan dan minuman, yaitu ibadah apa, ketakwaan apa, amalan apa, dzikir apa, yang akan kita tingkatkan di bulan Ramadan ini ?

Sungguh penyesalan yang tiada tara apabila kita memasuki bulan Ramadan dan mengabaikannya begitu saja, tanpa ada peningkatan ketaatan, tanpa ada peningkatan shodaqoh, tanpa ada peningkatan dzikir dan amalan-amalan lainnya.

Sebagaimana sahabat sahabat kita, keluarga kita, handaitolan kita yang telah berpulang ke Rahmatullah lebih dahulu, mereka mereka dulu berpikir mereka akan sampai pada bulan Ramadhan yang mulia ini, namun ternyata kesempatan yang mulian seperti saat ini tidaklah mereka dapatkan, dan mereka belum sempat untuk sampai pada bulan Ramadhan yang mulia ini untuk lebih beribadah untuk lebih meningkatkan ketaatan dan ketakwaan.

Sedangkan kita yang Allah berikan umur lebih, kita yang Allah berikan kesempatan sekali lagi untuk menikmati bulan Ramadhan yang mulia ini lantas apakah kita akan menyia-nyiakannya begitu saja

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي رَمَضَانَ مِنَ اليُمْنِ وَالبَرَكَةِ لَتَمَنَّوا أَنْ يَكُوْنَ حَوْلًا كَامِلًا

seandainya manusia mengetahui pada bulan Ramadan berupa kebaikan dan keberkahan maka sesungguhnya mereka akan berangan-angan bercita-cita untuk setahun penuh adalah bulan romadhon.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

Nabi Muhammad saw bersabda barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian kemudian melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab maka dosa-dosanya yang terdahulu telah diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Dijelaskan oleh Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam kitab Nashoih Diniyyah makna iman dan ihtisab dari Hadits tersebut adalah, iman yang artinya meyakini janji janji Allah swt dan ihtisab yang maknanya adalah tulus ikhlas kepada Allah.

Maka jika ia berpuasa dengan penuh keyakinan mengimani janji janji Allah swt disertai dengan ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah, maka ia mendapatkan kemulian Ramadhan berupa pengampunan dosa dosa yang telah ia lewati.

Maka tidak heran nanti, jika setelah keluar dari Ramadhan dosanya telah diampuni Allah swt dan dia suci layaknya seorang bayi yang baru lahir tanpa dosa.

إِنَّ أَحْسَنَ الكَلَام، كَلَامُ اللهِ المَلِكِ العَلَّام، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالِى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى المُهْتَدُوْنَ، وَإِذَا قُرِئَ القُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُم تُرْحَمُوْنَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُم تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Jumat Kedua

الحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَر، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَهَدَ بِهِ وَكَفَر، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَر، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِالنَّظَر وَأُذُنٌ بِالخَبَر، أَمَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَاشِرَ المُسْلِمِيْنَ

اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحضُوْرِ الجُمْعَةِ وَالجَمَاعَةِ،وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا،اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللهم ارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوا بِهِ يَعْدِلُوْنَ، سَادَاتُنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

اللهم أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اللهم انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ، اللهم أَهْلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالكَفَرَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اللهم آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلِ اللهم وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ، وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا الخَاصَّةِ وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اللهم اغْفِر لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ واَلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

مَعَاشِرَ المُسْلِمِيْنَ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.