Beranda Berita Langganan Banjir di Pondok Pesantren Al-Kahfi Menyentuh Hati

Langganan Banjir di Pondok Pesantren Al-Kahfi Menyentuh Hati

1
Langganan Banjir di Pondok Pesantren Al-Kahfi Menyentuh Hati
EVAKUASI TAMU : Petugas BPBD, PMI dan para santri mengevakuasi tamu ulama besar dari Turki, Maulana Assayid Assyarif Syeikh Prof Dr Muhammad Fadhil Al-Jilani Al-Hasani saat banjir di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen, Selasa (15/3/2022).

*********

BANJIR di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Desa Sumberadi, Kecamatan/Kabupaten Kebumen sudah menjadi langganan setiap tahun. Bahkan pada 2020 lalu terjadi dua kali dalam semusim. Konon, bencana itu dampak dari kebijakan pemerintah Belanda yang mengubah posisi Sungai Kedungbener di Timur pondok tersebut.

Tahun ini kembali banjir dan menggenangi apa saja di kompleks Pondok Al-Kahfi. Seperti buku-buku serta pakaian milik santri yang tertata rapi pada almari, ikut tenggelam karena ketinggian air mencapai lebih dari satu meter. Begitu pula barang-barang yang berada di lantai satu.

Menyusul surutnya air paska banjir pada Selasa (15/3/2022) itu pun cukup menyentuh hati. Ada lebih dari 2.000 santri yang telah berjibaku menghadapi banjir, masih harus membersihkan lumpur dan sampah yang menggunung.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah agar banjir yang selalu terjadi setiap tahun ini bisa ditangani,” kata Pengurus Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Sutono.

Untuk diketahui, daerah dengan tingkat kerawanan banjir besar itu berada di sepanjang aliran Sungai Kedungbener yang melintasi 11 desa, termasuk Sumberadi. Sebagaimana hasil penelitian Hardjanto (2018) yang menyebut luas daerah sangat rawan banjir di Kecamatan Kebumen itu mencapai 3.824,22 hektare dan luas daerah rawan banjir 933,17 hektare.

Ahmad Muktafin, yang nyantri di Pondok Al-Kahfi sejak 2009, mengaku sudah mengalami banjir lebih dari sepuluh kali. “Pernah semusim dua kali banjir pada 2020. Dan setiap ada hujan dengan intensitas tinggi, kami selalu antisipasi,” ungkap Tafin yang baru lulus kuliah di IAINU Kebumen itu.

Ulama Besar

Ia pun langsung berkemas menyelamatkan barang-barang di pondok, saat hujan turun dengan lebatnya. Namun seringkali, air yang menerjang pondok lebih cepat dari luapan Sungai Kedungbener. Tafin yang belum selesai menyelamatkan barang-barang untuk dibawa ke lantai dua pun mendapati lingkungan pondok sudah tergenang.

Paska banjir, para santri masih bergotong royong untuk melakukan bersih-bersih dan melawan penyakit yang mengikutinya sekian lama, seperti demam, diare dan gatal-gatal. Hingga kemudian masih menghadapi hal serupa setelah kedatangan banjir lagi di pondok asuhan KH Afifuddin Chanif Al-Hasani yang Rois Syuriyah PCNU Kebumen itu.

Keadaan tersebut disikapi dengan sabar oleh para santri yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air itu. Banjir kali ini pun kian menyentuh hati lantaran tengah kedatangan tamu ulama besar dari Turki, Maulana Assayid Assyarif Syeikh Prof Dr Muhammad Fadhil Al-Jilani Al-Hasani.

Ulama tersebut masih keturunan Sulthonul Auliya’ (raja para wali), Syeikh Abdul Qadir Jailani. Para santri serta petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kebumen melakukan evakuasi serta memberikan bantuan. 

Namun penanganan tersebut belum menuntaskan masalah. Apalagi kalau dilihat dari kebijakan pemerintah Belanda dulu, yang disebut telah mengubah posisi Sungai Kedungbener di Timur Pondok Al-Kahfi hingga berdampak banjir.

Bahkan jika kebijakan dari penjajah itu diabaikan, tampak menunjukkan kekurangpekaan dari pengambil keputusan terhadap bijaksananya ulama setempat. Di samping itu membuat kesan pihak terkait menyerahkan kebijakan pemerintah Belanda yang sudah meninggalkan wilayah ini sejak lama. (Adm5)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here