
Sejarah Singkat Lahirnya Nahdlatul Ulama – Sejarah berdirinya NU (Nahdlatul Ulama) melalui proses panjang dan istikharoh para pendirinya yaitu KH Hasyim Ay’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri serta Sayyid Alwi Abdul Aziz al Zamadghon yang akrab di sapa Kiai Mas Alwi adalah pemberi Nama Nahdlatul Ulama dan pencipta Lambang logo adalah Kiai Ridwan Abdullah.
Sesampainya santri As’ad (KHR As’ad Syamsul Arifin Situbondo) di pondok pesantren tebuireng, beliau menyampaikan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari sebagai amanah dari KH Cholil Bangkalan. Setelah beliau mengambilnya KH Hasyim Asy’ari bertanya kepada As’ad: ” Apakah ada pesan lain dari Bangkalan?”,spontan As’ad menjawab “Ya Jabbar, Ya Qohhar”, terucap sebanyak tiga kali. Setelah mendengarnya KH Hasyim Asy’ari menjawab: Allah SWT telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyyah”.
Cerita tersebut merupakan petunjuk berdirinya Nahdlatul Ulama, Sekitar tahun 1925 akhir kembali santri As’ad diutus oleh KH Cholil untuk mengantarkan tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna “Ya Jabbar, Ya Qohhar”, ke KH Hasyim Asy’ari. Selain itu sebelumnya As’ad juga pernah diamanahkan untuk memberikan tongkat lengkap dengan Ayat Al Qur’an Surat Thaha ayat 17:23 (menceritakan tentang Mukjizat Nabi Musa as) sekitar tahun 1924 akhir.
Atas petunjuk dan tanda tersebutlah lahirnya NU melalui proses panjang dari lahir dan batin yang tidak melalui perangkat formal seperti organisasi lain. Selain itu berdirinya NU merupakan rangkaian panjang dari perjuangan yang merupakan respon dari berbagai masalah keagamaan, peneguhan mazhab dan kebangsaan serta sosial masyarakat.
Namun sebelumnya, KH Wahab Chasbullah sekitar pertengahan tahun 1924 pernah juga mengagas berdirinya Nahdlatul Ulama yang langsung disampaikan ke KH Hasyim Asy’ari untuk meminta petunjuk. Namun saat itu Kiai Hasyim belum menyetujui sebelum beliau mendapatkan petunjuk dengan melakukan sholat istikharah kepada Allah SWT.
Baca Juga: Dowload Logo dan Atribut Lembaga Banom NU disini
KOMITE HIJAZ
Cikal bakal lahirnya NU berasal dari sejarah adanya Komite Hijaz. Masalah keagamaan pada saat itu dihadapi para ulama terutama dikalangan pesantren saat pemerintahan Arab Saudi ingin melalukan pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW yang menjadi tujuan ziarah ummat muslim seluruh dunia yang dianggap bid’ah. Selain itu mereka memberlakukan dan menerapkan Wahabi sebagai mazhab resmi pemerintahan dan menolak mazhab selain tersebut.
Atas kebijakan tersebut membuat para ulama dikalangan pesantren gelisah terutama KH Wahab Chasbullah yang bergerak cepat dan membawa masalah ini dalam forum CCC (Centraal Comite Chilafat, 1921) yang mendesak pemerintahan Arab Saudi untuk melindungi kebebasan bermazhab. Sampai akhirnya Kiai Wahab telah melakukan diplomasi kepada beberapa tokoh CCC terkait kebijakan tersebut namun selalu berakhir dengan kekecewaan.
Atas dasar tersebut akhirnya Kiai Abdul Wahab Chasbullah melalukan langkah sendiri dengan membentuk panitia yang kita kenal dengan Komite Hijaz yang nantinya akan membawa kebijakan tersebut ke forum Muktamar CCC di Mekkah tahun 1926, atas restu KH Hasyim Asy’ari. Selanjutnya panitia Komite Hijaz mengadakan pertemuan ulama yang dipimpin langsung oleh KH Hasyim Asy’ari di Kertopaten, Surabaya. Dengan hasil menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai perwakilan delegasi Komite Hijaz.
Namun dalam perkumpulan tersebut timbul pertanyaan dari Kiai Asnawi Kudus yaitu atas nama siapa atau institusi apa yang akan membawa Kiai Asnawi dalam pertemuan forum CCC tersebut. Setelah perdebatan panjang KH Mas Alwi bin Abdul Azis mengusulkan nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai institusi yang membawa Kiai Asnawi dalam delegesai tersebut, Pada 16 Rajab 1344 H bertepatan 31 Januari 1926 M maka lahirlah Nahdlatul Ulama.