
PEJAGOAN, pcnukebumen.or.id – Katib Syuriyah PCNU Kebumen KH Adib Amrulloh Lc menyebut ciri orang taqwa dengan menekankan totalitas memberi. Ulama muda yang menjadi salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Desa Kritig, Kecamatan Petanahan, Kebumen itu juga menunjukkan pemberian maaf sebagai jalan menuju surga.
“Totalitas memberi tersebut baik dalam keadaan senang maupun susah,” tutur Gus Adib, sapaan akrabnya saat mengisi halal bihalal keluarga besar IAINU Kebumen di aula Rumah Makan Ndalem Rowogowok Pejagoan, Minggu (15/5/2022).
Halal bihalal dalam moment Idul Fitri 1443 H tahun ini diikuti jajaran pembina yayasan, pengurus serta kalangan struktural, dosen dan karyawan IAINU. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan ikrar permintaan maaf dan penerimaan maaf.
Menurut Gus Adib, kita acapkali mudah memaafkan, tetapi sulit melupakan kesalahan orangnya. Sehingga, dalam mencapai derajat taqwa itu harus dengan totalitas memberi maaf. Begitu pula totalitas memberi kebaikan lainnya.
Putra tokoh NU, KH Muzani Bunyamin yang pendiri Pondok Pesantren Darussa’adah itu lantas mengisahkan sahabat Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib yang memberi sepotong roti kepada orang miskin kala dirinya dan keluarganya sedang kesusahan. Bahkan tidak hanya sekali memberi roti, baik kepada fakir miskin, anak yatim maupun kepada tahanan perang.
Meski pemberian tersebut tidak seberapa jika dibandingkan dengan harta yang disedekahkan oleh sahabat nabi lainnya yakni Abu Bakar, namun kisah kemuliaan Ali bin Abi Thalib itu diabadikan dalam Alquran.
“Kisah tersebut mengandung pendidikan karakter luar biasa, karena punya mental totalitas memberi dalam keadaan apapun, entah senang atau susah,” jelas Gus Adib.
Teladani Nabi
Lebih lanjut, karakter baik lainnya yakni memendam amarah, di mana dalam totalitas memberi itu dicontohkan Gus Adib dalam kehidupan keluarga.
“Memang harus ada hal yang disembunyikan dari sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan. Bisa saja engkau membenci sesuatu, tapi lebih baik dipendam, karena ada hikmah dalam setiap sesuatu, termasuk dalam hal yang tidak menyenangkan,” terangnya.
Sementara itu, perwakilan Yayasan Penyelenggara Pendidikan (YPP) NU, Tauhid Alamsyah MSy dalam sambutannya meminta kalangan civitas academica IAINU Kebumen terus menjaga kekompakan dan kebersamaan. Di samping itu bersemangat memajukan kampus dan bersama-sama menghadapi tantangan yang kian kompleks.
Hal tersebut juga diuraikan Rektor IAINU Kebumen Fikria Najitama MSI yang menyampaikan ikrar permintaan maaf halal bihalal dan dijawab oleh jajaran pimpinan YPP NU Dr Imam Satibi yang menerima maaf.
Imam Satibi yang mantan Rektor IAINU Kebumen itu juga menyinggung kampus yang pernah dipimpinnya dengan menyebut kaya. “Dalam konteks ini kaya bukan sebatas harta, tetapi sumber daya dan kekayaan diri seperti skill, kompetensi, perilaku dan akhlak,” bebernya.
Imam pun optimistis IAINU Kebumen bisa mencetak generasi ulama yang warosatul ambiya atau pewaris para nabi. Di antaranya Nabi Nuh yang ahli perkapalan, Nabi Daud ahli besi dan Nabi Muhammad yang negarawan sekaligus ahli bisnis. Bahkan nabi terakhir ini sebagai peletak bisnis dengan kejujuran.
Menuju abad pertengahan, kata Imam, juga terdapat banyak tokoh besar Muslim yang ahli dalam berbagai bidang. Seperti Ibnu Sina ahli kedokteran, Al Farabi ahli musik dan Al Kindi ahli matematika. “Ke depan IAINU diharapkan bisa mencetak sumber daya yang unggul dengan meneladani para nabi,” tandas Imam yang kini menjabat Rektor UMNU itu. (Admin5)
