
KUWARASAN, pcnukebumen.or.id – Kehadiran Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar di Pondok Pesantren Wahdatuttulab Desa Pondok Kebangsari, Kecamatan Kuwarasan, Kebumen, membawa ghirah atau semangat tersendiri, Minggu (15/5/2022).
Di pesantren yang diasuh KH Masdar Yasin itu tengah dihelat khotmil kutub (khataman kitab kuning) dengan menampilkan puluhan santri. Ratusan warga Nahdliyyin larut dalam siraman rokhani yang disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya itu.
Suasana pondok pesantren juga terasa semarak. Apalagi terdapat panggung megah dengan penyambutan sepanjang jalan menuju pesantren tersebut. Sejumlah tokoh NU Kebumen tampak menyambut dengan hangat. Mereka yang datang lebih awal itu setia menunggu kedatangan KH Miftahul Akhyar.
Tampak Rais Syuriah PCNU Kebumen KH Afifuddin Chanif Al-Hasani, Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen KH Dawamudin Masdar MAg, Rais Syuriyah MWC NU Kuwarasan KH Turmudzi dan Ketua Tanfidziyah MWC NU Kuwarasan Arif Rochman.
Kepada jamaah yang datang dari berbagai penjuru wilayah, KH Miftahul Akhyar memberi wejangan (nasihat) yang menyentuh. Terutama terkait keberadaan warga Nahdliyyin yang mayoritas agar terus meningkatkan kualitas. “Jangan sampai jadi mayoritas tapi kualitas minoritas,” tuturnya.
Kiai kharismatik itu lantas mengupas kata iqra (bacalah), yang merupakan perintah untuk meningkatkan kualitas agar memiliki kemampuan apa saja dan bisa diperoleh di mana saja. Contohnya dengan gelar berderet-deret.
Tidak Terombang-ambing
Kendati demikian, lanjut KH Miftahul Akhyar, kepandaian atau kepintaran yang diraih tersebut harus dibarengi dengan bismirobbika (menyebut nama Tuhanmu), sebagai perintah untuk menjadi orang yang benar.
Jadi, pintar saja tidak cukup. Apalagi dengan hanya mengandalkan kepandaian yang terbukti nyata-nyata merusak tatanan. “Bisa-bisa dunia akan habis karena tatanannya rusak,” imbuhnya.
KH Miftahul Akhyar juga menyitir pernyataan Imam Syafi’i tentang kunci mendidik anak agar menjadi soleh dan pandai yang terdiri atas empat hal, yakni ikhlas, mendapat ridho kiai, doa orang tua dan makanan yang halal.
“Taruhlah sekarang benar adalah nomor satu, pintar nomor dua. Dan agar menjadi orang yang benar dan pintar, belajarnya ya di pesantren,” jelas KH Miftahul Akhyar.
Ketua PCNU Kebumen KH Dawamudin Masdar menyampaikan kepada warga Nahdliyyin agar tidak terombang-ambing oleh ustadz dadakan. Apalagi ustadz itu diketahui tidak pernah ngaji di pesantren.
Sementara itu, Ketua MWC NU Kuwarasan Arif Rochman menyampaikan kedatangan Rais Aam PBNU di Pesantren Wahdatuttulab berkat koordinasi panitia yang diketuai Nasikhudin dengan MWC dan PCNU Kebumen. Hingga kemudian pihak panitia menembusi langsung KH Miftahul Akhyar. (Admin5)

