
KEBUMEN, pcnukebumen.or.id – Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kekuatan yang diakui dunia. Dalam menghadapi satu abad pada 1444 H mendatang, jam’iyyah tersebut harus mengambil momentum untuk menjadi kekuatan ekonomi yang besar.
“Pengembangan ekonomi memang relevan dengan pengembangan NU dalam menghadapi satu abad pada 1444 H,” kata Wakil Ketua PBNU Nusron Wahid saat mengisi Semiloka Ekonomi Nasional “Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Penguatan Entrepreneurship di Daerah”, Selasa (12/7/2022).
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen itu juga menghadirkan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto sebagai narasumber, Rais Syuriyah PCNU Kebumen KH Afifuddin Al Hasani dan Ketua Tanfidziah PCNU Kebumen KH Moh Dawamudin Masdar.
Nusron yang Anggota Komisi VI DPR RI itu menyebut, selama satu abad pertama, pilar NU yang paling menonjol baru politik dan intelektual. Sedangkan ekonomi kerakyatan justru makin berkurang sejak era pembangunan Orde Baru (Orba).
“Ceruk yang mestinya digarap NU ini telah diambil oleh industri dan konglomerat. Ekonomi kerakyatan yang dulu kuat, ada pabrik tahu, tempe dan sirup di desa-desa, tapi sejak diindustrialisasi jadi rontok,” ucap Nusron.
Selanjutnya, fanatisme warga NU terhadap produk sendiri justru lemah. Ia mencontohkan ketika mereka lebih memilih membeli produk kecap buatan industri ketimbang tetangga sendiri. Keberadaan NU yang menjadi mayoritas secara kuantitas pun kurang berdaya dalam bidang ekonomi.
Harus Bangkit
Karena itu, warga NU harus bangkit dan sudah saatnya bertindak. “Intinya pada kebangkitan ekonomi atau entrepreneurship, selain kebangkitan intelektual dan teknokrat yang saat ini dicanangkan PBNU, agar birokrasi dan profesional dimasuki oleh anak-anak muda NU,” imbuhnya.
Lebih lanjut Nusron yang mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNPPTKI) itu menjelaskan, untuk memulai kebangkitan ekonomi yakni dengan menyiapkan skill, modal dan market.
Adapun pertumbuhan ekonomi, terang Nusron, ditopang empat faktor meliputi konsumsi masyarakat, goverment spending (ekonomi berputar akibat dana pemerintah), investasi, dan ekspor impor. Terakhir ini, ekspor harus lebih besar dari impor.
Bupati Kebumen Arif Sugiyanto lebih banyak memberi kesempatan peserta semiloka dari Banom NU, lembaga dan MWC untuk berdialog. Sejumlah permasalahan yang mengemuka antara lain tentang investasi dan pemulihan ekonomi paska pandemi.
Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kebumen KH Afifuddin Al Hasani mewanti-wanti supaya warga NU tidak kehilangan perahu atau moment. “Kalau sampai kehilangan momentum, maka nilai-nilai Aswaja secara tidak disadari akan terdegradasi,” tuturnya.
Semiloka yang dipandu Rektor UMNU Kebumen Imam Satibi itu dilanjutkan dengan Lokakarya Ekspor Impor “Mengenal Ekspor Import untuk Melihat Peluang Ekonomi di Era Globalisasi”. Dalam sesi kedua itu berlangsung hingga sore.
Kali ini menampilkan narasumber Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Kabupaten Cilacap Purwanto,
Kepala Disperindag Kebumen Frans Haidar, dan Praktisi sekaligus Owner Yuam Roased Coffe Yuam Dulloh.
Di sela-sela kegiatan tersebut juga ditampilkan Tari Saman yang dibawakan oleh puluhan santriwati Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu. Tepuk tangan hadirin pun membahana di pesantren tertua Se-Asia Tenggara itu. (Admin5)
