Beranda Kajian Aswaja Aswaja NU Center

Aswaja NU Center

0
Aswaja NU Center

Tradisi ulama dalam bidang keilmuan, secara umum ada dua yang menjadi kebiasaan. Pertama, menyiapkan orang yang paham ilmu agama dan melakukan perbaikan, baik dengan dakwah maupun perang/perjuangan (i’dad al mutafaqqihin wa al mushlihin da’watan wa qitaalan). Kedua, menjaga dan memperbaiki umat, baik aspek agama maupun kemasyarakatan (himayat al ummah wa ishlahiha diiniyyatan wa ijtima’iyyatan).

Pasca reformasi, berbagai macam aliran dan ideologi baik yang tumbuh dari spirit Barat maupun Islam muncul ke permukaan, baik aliran yang embrionya telah lama ada dalam tubuh masyarakat Islam Indonesia, maupun ideologi-ideologi baru yang di import dari luar dengan pola gerakan transnasional dan radikal. Indonesia menjadi ajang pertarungan berbagai
macam ideologi yang kebanyakan bertentangan dengan spirit Islam maupun keindonesiaan.
Ideologi fundamentalis bercorak radikal, dengan bersuara lantang seringkali mengklaim bahwa kelompoknya berada di garis yang paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Kelompok di luar dirinya dianggap sesat, ahli bid’ah, musyrik, dan anti memperjuangkan syariat.

Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri mengikuti ajaran Ahlussunnnah Wal Jamaah yang mengusung filosofi tawassut (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) serta ta’adul (tegak lurus) dalam beragama, ikut menjadi sasaran serangan kelompok- kelompok baru yang cenderung ekstrim tersebut. Mereka menuduh Nahdlatul Ulama mengajarkan ajaran Islam yang tidak murni, memasukkan nilai-nilai di luar Islam dalam beberapa ritual keagamaan. Gerakan radikal yang bercorak transnasional ini semakin lama semakin kuat dan terus melebarkan sayapnya di segala penjuru Indonesia. Varian dari kelompok-kelompok ini begitu banyak, meski memiliki perspektif berbeda termasuk dalam
detail pemahaman keagamaan, namun tujuan gerakan yang dibangun cenderung sama, yakni
formalisasi syariat Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kelompok-kelompok garis keras ini menggunakan segala cara, bahkan tidak jarang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Menuduh sesat dan kafir kelompok lain yang tidak sefaham. Bahkan kekerasan atas nama agama adalah hal yang biasa dalam pandangan mereka. Fenomena teror bom, perampokan bank seringkali melibatkan kader-kader mereka dengan pembenaran yang didasarkan pada penafsiran al- Qur’an maupun al-Hadis sesuai dengan kehendak mereka.

Nahdlatul Ulama sebagai ormas keagamaan yang selalu memperjuangkan Islam toleran ala Ahlussunnah Wal Jamaah menyadari jika ideologi Aswaja tidak dikokohkan dalam jiwa masyarakat Islam khsususnya di Indonesia, dampaknya adalah Islam tidak lagi
rahmatan lil alamin, namun rahmatan lil hizbiyyin (kelompok). Nahdlatul Ulama juga menyadari hingga saat ini sebagai satu-satunya ormas yang berada di garda depan pembela Pancasila dan NKRI, jika tidak ikut mengawal umat Islam Indonesia, niscaya bangsa ini akan
tercabi-cabik karena pertikaian antar golongan. Potensi disintegrasi bangsa akan meluluhlantahkan bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh masyarakat Indonesia yang banyak dimotori oleh para ulama yang mayoritas berfaham Ahlussunnah Wal Jamaah.

Wawasan kebangsaan Ahlussunnah Wal Jama’ah selaras juga dengan pandangan NU yang pada 1983 dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo oleh para ulama dinyatakan secara gamblang bahwa Pancasila dan NKRI adalah final. Tokoh NU kharismatik almarhum KH. As’ad Syamsul Arifin jauh sebelum Muktamar NU di Situbondo telah dengan keras dan lantang menyatakan bahwa ia akan melawan pihak-pihak yang merongrong keutuhan NKRI.

Maka berdasar dari fenomena tersebut, NU melalui Aswaja NU
Center sebagai sayap perjuangan Nahdlatul Ulama khususnya dalam penguatan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah mempunyai beberapa program kerja yang telah direncanakan baik dalam waktu yang berkala mapun ensidentil sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penyelenggaraan program Aswaja secara berkala ini juga diharapkan mampu menemukan formula yang dikemudian hari bisa ditindak lanjuti oleh pihak terkait, mendeteksi perkembanganpaham-paham non Aswaja, dan terumuskannya kegiatan yang menjadi follow up pada masa berikutnya sebagai upaya menjaga meneguhkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah serta menjaga keutuhan umat Islam, bangsa dan negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here