KEBUMEN, pcnukebumen.or.id – Pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Kebumen Ke-15 menjadi momentum penting untuk menatap masa depan dengan penuh keikhlasan. Isu risywah (suap) yang sempat muncul pada Konfercab periode sebelumnya pun diantisipasi panitia agar tidak terjadi dalam perhelatan kali ini.
“Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan Konfercab PCNU Kebumen Ke-15 agar bersih dan berkualitas. Tentunya dengan menghindari risywah,” tandas Ketua Steering Commite (SC) Konfercab PCNU Kebumen Ke-15, KH Fauzin Jamil MPdI saat meninjau persiapan di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen, Jumat (24/5/2024).
Menurutnya, isu risywah hingga paska Konfercab sebelumnya disebut sudah ada tindaklanjut. Namun diakui Kiai Fauzin, penanganannya belum tuntas lantaran kurang kooperatifnya pihak yang diduga terlibat risywah. Di samping itu, masalah tersebut juga cukup sensitif karena menyangkut citra personal. Sehingga, isu risywah sampai sekarang masih terus menjadi sorotan.
Sebagai langkah antisipasi terhadap praktik risywah dalam perhelatan Konfercab PCNU Kebumen Ke-15, panitia mengatur ketat mandat peserta utusan. Salah satunya melalui sistem registrasi digital (Siregal). Selain itu menyusun draft tata tertib (Tatib) secara terbuka, sehingga semua pihak bisa mengawasi Pasal-pasalnya.
Antisipasi selanjutnya dengan mengambil lokasi Konfercab di pondok pesantren yang dinilai lebih steril. Pihaknya juga gencar mengajak berbagai kalangan untuk menghindari risywah saat melakukan safari ke Majelis Wakil Cabang (MWC) di 26 kecamatan Se-Kebumen.
“Di situ kami memahamkan semua pihak bahwa praktik risywah bisa berdampak terhadap tidak sahnya Konfercab, sebagaimana sudah diingatkan oleh Rais Aam PBNU,” imbuhnya.
Belum Surut
Diketahui, risywah yang identik dengan money politic itu sebenarnya telah sekian lama menjadi perhatian masyarakat. Sayangnya praktik tidak terpuji tersebut belum kunjung surut. Bahkan dalam pelaksanaan Pemilu serentak 2024. Kendati, sebagian lagi menganggap politik uang dalam perhelatan seperti Pileg sudah menjadi rahasia umum. Tak pelak memengaruhi pelaksanaan pemilihan dalam organisasi seperti Konfercab.
“Memang belum bisa disebut budaya, tapi kami pikir dengan situasi yang ada sudah mengarah ke sana. Indikasinya terbaca ketika ada anggapan bahwa tindakan risywah dibahasakan sebagai cost (biaya) politik,” ungkap Kiai Fauzin yang menjabat Katib Syuriyah PCNU Kebumen itu.
Pihaknya pun dengan tegas menolak risywah. Tindakan tersebut menurut Kiai Fauzin sangat memalukan dan menciderai para muassis (pendiri) NU. Dampak terhadap organisasi juga menjadi sulit menjaga kekompakan karena ketidakjujuran itu hanya akan mendatangkan usaha untuk menutupinya dengan mencari pembenaran.
“Yang paling ngeri adalah kalau kuwalat sama muassis NU yang mukhlis-mukhlis,” tutur Kiai Fauzin seraya mengingatkan tema Konfercab PCNU Kebumen Ke-15 yakni “Ikhlas Berkhitmat, Teguh Berjam’iyyah, Memenangkan Umat”.
Selain mengawal jalannya Konfercab agar bersih dan berkualitas, diharapkan terbangun kesepahaman bersama untuk membuat blue print NU ke depan di Kebumen. Mengingat terdapat tema-tema dalam sidang komisi yang masih perlu dimatangkan lagi. Di antaranya menyangkut pokok pikiran program kerja, rekomendasi sekaligus masukan ke pemerintah serta masalah keagamaan.
Tidak hanya itu saja. NU Kebumen juga perlu memaksimalkan khidmah di bidang pendidikan, kesehatan dan kemandirian ekonomi. Di mana hal tersebut membutuhkan kepengurusan yang solid dengan merangkul semua potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Dan semua itu perlu diawali dengan menghindari praktik risywah. (Admin5)
Panitia Konfercab Antisipasi Isu Risywah