KEBUMEN, pcnukebumen.or.id – Katib Syuriyah PBNU KH Abu Yazid Al-Busthami meminta calon terpilih dalam pelaksanaan Konferensi cabang (Konfercab) PCNU Kebumen Ke-15 mengayomi umat. Pelaksanaan Konfercab yang berlangsung pada 25 – 26 Mei 2024 itu pun bukan untuk memenangkan calon, melainkan warga NU, warga Indonesia dan umat di seluruh dunia.
“Kita harus ingat tujuan dari para muassis (pendiri) bahwa NU didirikan bukan sekedar mengumpulkan kiai dengan santri, tetapi punya misi menjaga serta merealisasikan peradaban Indonesia dan dunia,” jelas Kiai Abu Yazid saat memberikan pembinaan kepada 460 ranting NU Se-Kebumen pada pembukaan Konfercab PCNU Kebumen Ke-15 di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Sabtu (25/5/2024).
Dalam pembukaan tersebut, hadir Ketua PWNU Jateng KH Dr Abdul Ghoffar Rozin, Rais Syuriyah PCNU Kebumen KH Afifuddin Chanif Al Hasani, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, Dandim 0709 Kebumen Letkol CZi Ardianta Purwandhana, Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen periode 2018 – 2023 KH Dawamudin Masdar serta jajaran MWC, lembaga dan Banom PCNU Kebumen. Hadir pula Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen Puji Handoko serta pengurus PCNU tetangga.
Kiai Abu Yazid juga meminta agar pengurus NU fokus terhadap jam’iyyah (organisasi) NU. Di mana butuh organisasi yang modern, profesional dan tertata dengan baik. “Kalau tidak lakukan hari ini, kita akan tertinggal,” jelas Kiai Abu Yazid yang mengingatkan kembali beberapa nasihat dari Ketua PWNU Jateng KH Abdul Ghoffar Rozin dan Rais Syuriyah PCNU Kebumen KH Afifuddin Chanif Al Hasani, terkait pemikiran mereka terhadap NU.
Tidak kalah pentingnya, kata Kiai Abu Yazid, penegakan aturan dengan rantai komandonya harus tegak lurus. Mulai ranting ke Majelis Wakil Cabang (MWC), MWC ke Pengurus Cabang (PC), PC ke Pengurus Wilayah (PW) dan PW ke Pengurus Besar (PB) NU. Kiai Abu Yazid kemudian menyebut penataan organisasi yang dilakukan itu bukan hanya menjadi pionir untuk peradaban Indonesia, tetapi pionir untuk peradaban dunia.
Indonesia Damai
“Ada orang luar bertanya, kenapa Indonesia damai, memiliki ketenangan dalam mengelola negara. Padahal negara lainnya yang tidak besar seperti Indonesia, mengalami pertikaian, tidak damai. Jawabannya, Indonesia dengan keberagamannya, yang terdapat 700 suku, seribu lebih bahasa dan 17 ribu pulau, mayoritas adalah orang NU,” katanya sembari menyebut angka survei sejumlah lembaga nasional.
Lebih lanjut Kiai Abu Yazid mengatakan, keberadaan NU memang memiliki dampak luar biasa. Dengan tradisi berkumpul, NU berdiri bukan jam’iyyahnya terlebih dahulu, tetapi jamaahnya. Sehingga NU cukup membumi dan mengakar kuat. Terlebih NU dibangun dari peradaban ahlussunah wal jamaah.
“Bayangkan saja jika tidak (dibangun dari peradaban ahlussunah wal jamaah), misal salafi atau wahabi, pasti tidak sebesar ini. Karena ahlussunah wal jamaah memiliki empat pondasi yaitu tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar maaruf nahi mungkar,” terang satu penerus tarekat Imam Ja’far Ash-Shodiq itu.
Indonesia pun menjadi contoh yang baik dalam hal perdamaian dunia karena mayoritas warganya NU. Kiai Abu Yazid lantas memberi tebak-tebakan terkait perdamaian dunia itu perlu disandarkan kepada siapa. Apakah Amerika, Eropa, atau Arab yang justru terjadi peperangan tak kunjung selesai. Dan ternyata tidak ada satupun dari negara-negara itu yang mampu mengelolanya. Sedangkan Indonesia bisa menerima perbedaan dengan keragaman yang ada.
Terkait hal tersebut, PBNU berkepentingan agar NU tidak hanya memfungsikan sebagai ri’ayyah (penjaga), namun juga tarekat (jalan) dan imaroh (memakmurkan). Kiai Abu Yazid kemudian memberi contoh Tahlilan sebagai ketauhidan yang menjadi kebiasaan. “Sarung yang lekat dengan NU pun bukan untuk diubah, namun menjadi tradisi yang harus dilestarikan,” jelasnya. (Admin5)
Calon Terpilih Diminta Ayomi Umat