
MENYIKAPI BERBAGAI MASALAH KEHIDUPAN
Oleh : H. Fauzin Jamil, M.Pd.I (Wakil Katib Syuriah)
الخطبة الاولى
اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ . لاَ إلٰهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ اَعَادَ الْاَعْيَادَ وَ كَرَّرْ. وَ اَطَالَ الْاَعْمَارَ اِلَى اِدْرَاكِ هَذَا الْيَوْمِ الْمُوَفَّرْ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ اَنْ خَلَقَ وَصَوَّرْ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً يُثْقِلُ بِهَا الْمِيْزَانَ فِى الْمَحْشَرْ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوْثُ اِلَى الْجِنِّ وَالْبَشَرْ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَادِقِ الْخَبَرْ، وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ اُولِى الْفَضْلِ الْاَفْخَرْ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
أَمَّابَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يُزَكِّى قَلْبَ الصَّائِمِيْنَ بِتَمَامِ الصِّيَامِ وَالْفِطْرِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْم: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكّىَ، وَذَكَر اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْاَخِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقَى
Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah
Marilah kita memanjatkan puji syukur kepada Allah ta’ala, karena atas pertolonganNya kita telah dapat melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh dan kini kita merayakan hari raya Idul Fitri, hari dimana kita saling memaafkan kesalahan-kesalahan di antara kita semua.
Tidak lupa pula, marilah kita juga senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, terlebih setelah sebulan penuh kita dididik oleh Allah Ta’ala melalui ibadah puasa Ramadhan.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia
Telah menjadi budaya dan tradisi bangsa kita dalam merayakan Idul Fitri selalu mengadakan acara halal bihalal dan silaturrahmi dengan kunjung-mengunjungi antara tetangga, sanak saudara dan handai tolan. Satu sama lain saling bersalaman sebagai ungkapan permohonan maaf dan memaklumi kesalahan masing-masing, baik yang menyangkut hubungan pribadi, tingkah laku, maupun hubungan sosial kemasyarakatan.
Hari raya Idul Fitri tahun ini kita berada pada kondisi yang kurang
menggembirakan bagi kita semua. Kondisi musibah pandemi yang belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan naiknya bebagai komoditi,
sejak beberapa waktu sebelum bulan puasa. Problematika hidup manusia, memang bagaikan roda berputar, kadang berada di posisi atas dan kadang ada di posisi bawah. Jika sedang di posisi bawah, kita harus bisa mengatasi keadaan, jika tidak pandai-pandai mengatasinya, seseorang akan selalu merasa gelisah berkepanjangan, terjerat oleh dilema yang beraneka ragam.
Apa yang menjadi problema hidup, ternyata beragam bentuknya dalam pergaulan yang luas dan masyarakat majemuk ini. Dari problema yang ringan menjurus kepada yang berat, cukup membuat seseorang merasa sesak nafas bahkan terkadang bisa menjadi stres.
Apa yang sedang kita alami sekarang ini pada hakikatnya
adalah merupakan ujian dan cobaan dari Allah ta’ala yang di
timpakan kepada kita semua, sebagaimana yang difirmankan-Nya
dalam surat Al Baqarah : 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَالِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Perlulah kita ingat bahwa selama manusia hidup, tidak akan
terhindar dari cobaan dan ujian, baik kecil maupun besar. Karena sejatinya kehidupan di dunia ini memang tempatnya cobaan. Lari dari satu masalah sejatinya menuju kepada masalah yang lain. Karena itu
kita harus berjaga dan bersiap diri menghadapi segala kemungkinan
yang terpahit. Kita harus menghadapinya dengan tabah dengan
keyakinan bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan
Dalam menghadapi hidup yang menyusahkan seperti
sekarang ini, seseorang perlu memiliki kepercayaan kepada diri
sendiri, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan tanpa rasa
takut, khawatir, dan resah yang tak berketentuan. Seorang yang
beriman hendaknya mampu mengapresiasikan kepribadiannya
sebagai pribadi yang tegar menghadapi segala cobaan dan
tantangan. Allah berfirman sebagai berikut:
وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُ
“Dan bersabarlah engkau (wahai Muhammad) menerima hukum
Tuhanmu. Sesungguhnya engkau dalam penjagaan Kami dan
bertasbihlah (mensucikan Tuhan mu), dengan memuji Tuhanmu
ketika engnkau berdiri”. (At-thur : 48).
اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah
Berbicara masalah ujian dan cobaan. Pada umumnya orang
mengira bahwa yang namanya ujian itu adalah segala sesuatu yang
tidak menyenangkan, seperti kesulitan hidup yang di alami
kebanyakan masyarakat kita sekarang ini. Akan tetapi sebenarnya
yang namanya ujian itu bukanlah hal-hal yang tidak menyenangkan
saja, akan tetapi yang menyenangkan pun, seperti mempunyai
banyak harta, mempunyai rumah yang megah dan mewah, mempunyai kendaraan yang mahal, itupun sebenarnya merupakan ujian dari Allah ta’ala. Apakah orang yang memiliki harta itu mau mensyukuri nikmat tersebut atau justru malah mengkufurinya. Berkenaan dengan hal ini ada sebuah firman Allah ta’ala dalam surat Al Anbiya: 35 sebagai berikut:
وَنَبْلُوْكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai suatu ujian dan hanya kepada Kamilah kamu akan di
kembalikan (untuk dihisab)”
Lebih tegas lagi bahwa kekayaan merupakan ujian bagi manusia, telah dijelaskan oleh ayat dibawah ini:
وَٱعْلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهٗ أَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak anakmu itu adalah sebagai
ujian dan sesungguhnya pada Allah-lah pahala yang besar”. (Al-Anfal:
28 )
Demikianlah penjelasan Allah ta’ala yang secara tegas
menyatakan bahwa manusia itu kadang-kadang diuji dengan
kebaikan atau kebahagiaan dan kadang-kadang diuji dengan keburukan atau penderitaan. Manusia yang diuji dengan penderitaan jika ia tidak lulus, maka bahayanya tidaklah begitu besar, akan tetapi jika manusia diuji dengan kemewahan hidup, bila ia tidak lulus, maka
bahayanya jauh lebih besar dari pada yang tidak lulus dalam ujian
penderitaan.
Betapa banyak orang yang hidup dalam kemewahan,
bertaburan harta, terpenuhi semua keinginannya, tetapi justru jauh
dan lupa kepada Allah yang memberi nikmat kebahagiaan tersebut
sehingga terjerumus melakukan berbagai macam perbuatan nista
yang dikutuk oleh Allah ta’ala. Allah berfirman sebagai berikut:
كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَانَ لَيَطْغٰى (6) أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنٰى (7)
“Sekali kali janganlah disangkal, sesungguhnya manusia benar-benar
durhaka karena dia melihat dirinya telah kaya raya:. (Al Alaq: 6-7 )
Dalam ayat lain pada surat Al-Fusilat ayat 51 disebutkan:
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى ٱلْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ فَذُوْ دُعَآءٍ عَرِيْضٍ
“Dan apabila kami berikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan
menjauhkan dirinya (tidak berterima kasih), tetapi apabila ia ditimpa
malapetaka, maka ia banyak berdoa”.
Berkenaan dengan harta ini, ada sebuah Hadist yang
menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah
bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhmya setiap umat itu mendapat ujian, dan ujian bagi
umatku adalah harta kekayaan”. ( HR Turmudzi dari Ka’ab bin Iyad )
اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ – اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia
Termasuk sesuatu yang menyenangkan namun sesungguhnya
merupakan ujian dan cobaan, adalah jabatan atau kedudukan, baik
jabatan itu dari instansi pemerintahan ataupun swasta. Memang
sudah menjadi fitrah, bahwa manusia merindukan kedudukan yang
tinggi atau menjadi penguasa yang memiliki kekuasaan yang luas.
Tetapi tidak semua orang yang sudah mencapai kedudukan yang
tinggi itu lulus dalam ujian dalam menduduki jabatan tersebut.
Dalam sejarah sering kita dapatkan adanya para penguasa yang
menyalahgunakan jabatannya, atau berbuat dzalim dan sewenang-wenang ketika ia sedang berkuasa.
Kita tentu ingat bagaimana luasnya kekuasaan Fir’aun pada
saat itu, kedudukanya tidak ada yang menandingi apalagi
melebihinya. Dengan kedudukan yang tinggi itu ia melakukan apa
saja demi untuk melanggengkan kekuasaanya, sampai ia berani
membunuh ribuan bayi laki-laki yang baru lahir ketika ia mendapat
informasi dari para juru ramalnya bahwa bayi-bayi itulah yang kelak
akan menggulingkan jabatanya sekarang ini. Hal ini telah ditegaskan
oleh Allah ta’ala dalam Al Quran.
Sekalipun Fir’aun itu sendiri sudah mati, namun Fir’aunismenya (faham-faham ke Fir’aunanya) tentu saja masih berkeliaran
dimana mana, diwarisi oleh para penguasa yang hidup sesudahnya.
Khususnya para penguasa yang tidak lulus dalam menempuh ujian
ketika menduduki jabatannya.
Mudah-mudahan dengan ketabahan berpuasa di setiap bulan
Ramadhan, kita akan senantiasa mampu menghadapi bermacam macam ujian yang beragam bentuknya seperti yang telah dituturkan di atas. Amin
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْن، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْم، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
الخطبة الثانية
اَللهُ أَكْبَرُ (×3) ، اَللهُ أَكْبَرُ (×3)، اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً، لاَ إلٰهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، االلهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْد
الحَمْدُ للهِ رَبِ الْعَالَمِيْن، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا الله. قَالَ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىّ، يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْن
اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ