Warga Nahdliyyin Pamer Produk Pertanian Organik

KEBUMEN, pcnukebumen.or.id – Warga Nahdliyyin dari Kecamatan Ambal, Kebumen memamerkan produk pertanian organik pada gelaran workshop di Auditorium IAINU Kebumen, Sabtu (3/12/2022).

Ia Muhammad Anshori asal Desa Banjarsari yang Ketua Kadang Tani Sarwotulus Ambal. Bersama sejumlah anggota kadang tani lainnya, Anshori menunjukkan sejumlah produk pertanian organik.

Ada beras dan kopi hitam yang dipamerkan di lokasi workshop helatan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAINU bertajuk “Promosi Produk dan Pengembangan Pasar Petani Organik Nahdliyyin Ambal Kebumen”.

Produk organik itu telah dikemas menarik. Seperti beras organik yang berlabel Lohjinawi. Jenisnya pun bermacan-macam, antara lain beras merah, hitam dan raja lele.

“Ini harganya tidak mahal. Apalagi manfaatnya sangat besar untuk kesehatan. Dan satu produk bisa dikreasi sampai enam macam. Misalnya beras hitam yang bekatulnya dijadikan kopi hitam,” papar Anshori.

Selanjutnya para narasumber dan peserta workshop diminta mencicipi nasi organik. Masing-masing dari Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) NU Jateng Mustofa, Presidium Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Yusuf Murtiono, Bendahara PCNU Agan Ashari dan Wakil Ketua DPRD Kebumen Fuad Wahyudi.

Selain itu dari Dinas Pertanian dan Pangan (Distapang) Kebumen Teguh Yuliono serta Rektor IAINU Fikria Najitama dan Ketua LPPM IAINU Kebumen Agus Salim Chamidi yang memberi sambutan lebih awal.

Adapun pesertanya dari kalangan dosen dan mahasiswa IAINU serta perwakilan enam desa, meliputi Desa Banjarsari dan Desa Kenoyojayan Kecamatan Ambal, Desa Setrojenar dan Desa Ayamputih Kecamatan Buluspesantren, serta Desa Tanggulangin dan Desa Jagasima Kecamatan Klirong.

Menurut Anshori, nasi organik tersebut bisa tahan hingga tiga hari. Mereka yang mengikuti paparannya juga disuguhi kopi hitam dari bekatul beras hitam.

“Nasinya punel dan kopinya mak nyus,” ungkap Yusuf Murtiono saat dimintai tanggapannya oleh Moderator Ahmad Nurkholis dari Dosen IAINU, usai mencicipi nasi organik dan adonan kopi hitam bekatul.

Yusuf Murtiono yang didaulat menjadi salah satu pemateri juga menekankan kepada pemerintah desa yang warganya memiliki kreativitas seperti Kadang Tani Sarwotulus Ambal, untuk ikut memberi sentuhan.

Urusan Rakyat

“Kalau sampai pemerintah desa tidak sentuh, apalagi tidak beri anggaran, maka dholim namanya. Karena, urusan rakyat kan urusan pemerintah desa, di samping pemerintah kabupaten,” jelasnya.

Masih disampaikan Anshori, untuk mencapai produk organik memang tidak mudah. Namun pihaknya memiliki keinginan besar agar produk organik yang dikembangkan Kadang Tani Sarwotulus Ambal bisa melebihi produk lain yang penanganannya menggunakan pupuk kimia sintetis.

Saat ini terdapat 6 hektare sawah yang tersebar di sejumlah desa wilayah Ambal, baru ditanami padi organik. Luasan itu menghasilkan 6 ton perhektare. Mengenai manfaat kesehatan dari beras organik, Anshori menyampaikan bisa mencegah kanker payudara, stunting, idiot dan gangguan jiwa.

“Awalnya juga ada keperihatinan mengenai kasus di salah satu desa Kabupaten Brebes yang banyak terkena stunting, idiot dan gangguan jiwa. Penyebabnya tidak lain semua makanan atau minuman ternyata terkontaminasi pupuk kimia sintesis dan obat-obatan tidak layak konsumsi,” imbuhnya.

Hingga kemudian, papar Anshori, setelah dari PBNU turun tangan, dikembangkanlah pertanian organik yang dipelopori warga Nahdliyyin Ambal dengan pendampingan dari LPP NU Jateng. Gayung bersambut atas kemunculan kasus lainnya yakni kanker payudara yang berhasil sembuh dengan mengonsumsi nasi organik secara rutin. Pertanian organik pun terus dikembangkan.

Mustofa dari LPP Jateng menekankan penguatan organik di Ambal bisa merambah ke wilayah lain di Kebumen. “Tapi petaninya kudu makan organik dulu. Terutama warga Nahdliyyin. Jangan organiknya yang dijual, tapi malah makan padi nonorganik,” tuturnya.

Wakil Ketua DPRD Kebumen Fuad Wahyudi mendorong pertanian organik di Kebumen melalui regulasi yang ada. Teguh Yuliono dari Distapang mengemukakan pertanian organik menjadi tren ke depan. Apalagi pemerintah telah mengurangi subsidi pupuk.

Agan Ashari yang pemilik Affa Mart dalam paparan materinya mengaku siap menampung produk pertanian organik. “Tentunya kita perlu memasyarakatkan produknya dulu,” tandas Agan yang merambah berbagai usaha dari percetakan, pengelola parkir hingga koperasi simpan pinjam di Kebumen.

Sementara itu, Fikria Najitama menyampaikan kegiatan kali ini wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak hanya menyangkut pendidikan dan pengajaran. Namun juga penelitian dan pengabdian masyarakat. Sedangkan Agus Salim Chamidi berharap ada tindaklanjut dari adanya workshop tersebut.

“Setelah ini ada pendampingan dari dosen bersama mahasiswa di desa, terutama desa yang mengembangkan pertanian organik,” kata Agus Salim yang baru melibatkan dosen dan mahasiswa IAINU dalam pendampingan desa wisata di sejumlah tempat itu. (Admin5)

BERI PAPARAN : Ketua Kadang Tani Sarwotulus Ambal memberi pemaparan produk organik pada workshop di Auditorium IAINU Kebumen, Sabtu (3/12/2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *